Dandhy Dwi Laksono isi Kuliah Umum di IAIN Metro

370

Metro, nuwobalak.id– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Isalm (FEBI) IAIN Metro mengadakan kuliah umum untuk memfasilitasi mahasiswa dalam menambah wawasan pengetahuan yang jarang dipelajari pada rutinitas perkuliahan di ruang-ruang kelas. Acara berlangsung di GSG IAIN Metro, pada Senin, (11/11/2019).

Dengan mengangkat tema “Indonesia Biru Potret Eco-Techno dan Ekonomi Lokal Dalam Ekspedisi Indonesia Biru” FEBI IAIN Metro mendatangkan Dandy Dwi Laksono dari Watcdoc Documetary untuk berbicara lebih luas soal Ekonomi Biru.

Acara ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa FEBI IAIN Metro
selain itu, juga turut hadir Dekan FEBI IAIN Metro ,Dr. Widhya Ninsiana, M.Hum, Wakil Dekan I Drs. M. Saleh, Wakil Dekan III Nizarudin, S.Ag, MH, Kajur Ekonomi Syariah Dharma Setyawan, MA, Kajur S1 Perbankan Syariah, Reonika Puspita Sari, M.E.Sy, serta dosen dan staf Febi IAIN Metro.

Mengutip dari tulisan Dharma Setyawan, MA, yang disampaikan dalam pesan singkat melalui WatsApp, menjelaskan bahwa Istilah “ekonomi biru” pertama kali disebutkan oleh Gunter Pauli sebagai Green 2.0 atau ekonomi hijau yang disempurnakan. Dalam hal ini, ekonomi biru mengacu pada sejumlah poin penting, antara lain efisiensi sumber daya, pemanfaatan secara berjenjang, pemanfaatan limbah, hingga penggunaan inovasi untuk pemanfaatan sumber daya dan limbah.

ekonomi biru merupakan sebuah konsep dalam pembangunan berkelanjutan. Warna “biru” dalam konsep ini tidak semata-mata berarti bahwa konsep “ekonomi biru” hanya terkait dengan maritime atau kelautan saja. Warna biru di sini mengacu pada birunya laut dan langit, sesuatu yang patut dijaga di tengah berbagai pencemaran yang terjadi di dunia. Lebih lanjut dari ekonomi hijau, ekonomi biru menitikberatkan pada penggunaan limbah sebagai bahan baku sehingga ekonomi tidak hanya bersifat “ramah lingkungan”, tetapi juga mampu mengolah sisa kegiatan ekonomi menjadi produk yang tidak kalah bermanfaat.

Dalam menyampaikan paparan mengenai Ekonomi Biru pada acara Kuliah Umum tersebut, Dandy menyampaikan tentang bagaimana kreativitas masyarakat Sumba mampu melepaskan ketergantungan dari pupuk kimia untuk menghidupkan dan menyuburkan tanaman-tanamannya.

Masyarakat Sumba memanfaatkan air seni manusia untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Yang pada intinya, ekonomi biru adalah bagaimana tetap menjaga keseimbangan alam dalam setiap aktivitas.

Drs. M. Saleh, Wakil Dekan Febi IAIN Metro turut mengapresiasi kedatangan para peserta kuliah umum, serta berharap semua peserta dapat membangun interaksi yang baik selama acara berlangsung.
Dalam sambutannya, M. Saleh mengatakan
“Adek2 saya harapkan mendengarkan dengan baik, dan saya harap akan ada interaksi yang baik dengan narasumber. Kehadiran kalian kesini adalah kesadaran tentang pengetahuan, karena walaupun hanya dihubungi melalui media sosial saja tanpa ada surat resmi, kalian bersedia hadir.”

Wakil rektor II Dr. Mukhtar Hadi, MSI. Juga mengatakan pentingnya acara ini, karena menurutnya, selain menambah wawasan, kuliah umum soal ekonomi biru ini penting untuk membangun kesadaran tentang ekologis dan humanis.

Dalam sambutannya, Mukhtar mengatakan
“Saya mengenal mas dandi ini dari media sosial dan film-film dokumenternya. Kuliah umum Ini dilakukan diluar proses pembelajaran yang rutin dilakukan dengan dosen di kelas.”

“Dengan kuliah seperti ini, akan memperluas wawasan, apalagi kita mengangkat tema soal ekonomi biru. Dugaan saya, nanti mas dandi akan penampilan banyak film.” Lanjut Mukhtar.

Mukhtar Juga menjelaskan “Dulu ada teori pembangunanisme, berkembang pada era dunia ke-3. Teori ini mengatakan, bahwa sebuah negara kalau ingin maju, maka harus melaksanakan proses pembangunan, dengan memanfaatkan seluruh Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia untuk kemajuan.” Jelas Mukhtar

Di akhir, Muhktar juga menyampaikan melalui sambutannya “Semua kemajuan harus melalui proses pembangunan. Namun, pembangunan terkadang merusak ekologi, karena tidak memperhatikan keseimbangan alam. Pembangunan tanpa kesadaran ekologi akan menimbulkan efek negatif. Proses pembangunan harus memperhatikan ekologis dan humanis.” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here