Ekonomi Islam

65

Penulis : Mustika Edi Santosa

Wacana tentang ekonomi Islam diawali dengan konsep ekonomi dan bisnis nonribawi (larangan praktik riba) sebagai pengganti sistem ekonomi konvensional yang menggunakan sistem bunga. Sehingga, dibentuklah lembaga keuangan pedesaan bernama Bank Mit Ghamr yang diprakarsai oleh Dr. Ahmad Najjar pada tahun 1963. Eksperimen tersebut akhirnya berhasil, baik dalam penghimpunan modal dari masyarakat berupa tabungan, uang titipan dari zakat, infaq dan shadaqah, maupun dalam memberikan modal kepada masyarakat berpendapatan rendah, khususnya di bidang pertanian sampai tahun 1967.

Selanjutnya perkembangan perbankan Islam semakin besar dengan didirikannya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 yang berpusat di Jeddah yang kemudian memicu berdirinya bank-bank Islam di seluruh dunia termasuk di kawasan Eropa. Kemudian, di negara Timur Tengah, bank-bank Islam bermunculan seperti Dubai Islmic Bank (1975) dan Kuwait Finance House (1977). Sedangkan, di Asia Tenggara, perkembangan perbankan Islam terjadi pada awal tahun 1983 dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) yang selanjutnya disusul dengan berdirinya bank Islam pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia tahun 1993.
Tumbuhnya ekonomi Islam melalui pendirian perbankan Islam kini memberikan warna baru di dunia keuangan. Perbankan Islam yang menganut sistem ekonomi Islam menjadi harapan baru bagi umat Muslim untuk dapat kembali menegakkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Pada dasarnya, sistem ekonomi Islam memiliki karakteristik yang berbeda dengan ekonomi konvensional. Ekonomi Islam merupakan sistem yang adil dan berupaya menjamin kekayaan tidak terkumpul hanya kepada satu kelompok saja, tetapi tersebar ke seluruh masyarakat. Sebagamana ciri penting dari sistem ini digambarkan dalam Al Qur’an surah Al-Hasyr ayat 7.

Adanya perkembangan Ekonomi Islam, menjadi tanda bahwa aktivitas ekonomi semakin seimbang. Dalam teorisasi ekonomi konvensional, tujuan utama aktivitas ekonomi hanya untuk kepentingan duniawi. Sedangkan dalam teorisasi ekonomi Islam segala aktivitas ekonomi harus memiliki tujuan yang seimbang yaitu antara duniawi dan kepentingan ilahi. Islam juga memandang bahwa aktivitas ekonomi harus memperhatikan keseimbangan yang sesungguhnya antara tujuan-tujuan material (kebendaan) dengan nilai- nilai spiritual (kerohanian).
Lahirnya sistem ekonomi Islam tidak lepas dari usaha Rasulullah SAW sebagai nabi yang diutus oleh Allah SWT. Misinya dalam menyebarkan ajaran Islam, telah mampu menanamkan nilai-nilai Islam kedalam setiap kehidupan umat Muslim. Tidak luput juga, sektor ekonomi pun mendapatkan sentuhan hingga akhirnya muncullah nilai-nilai dan prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam sebagai pembeda dari sistem ekonomi lainnya.

Nilai-nilai ekonomi Islam pada dasarnya bersumber dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di mana nilai ajaran Islam (tauhid) terangkum di dalamnya. Dalam pelaksanaannya, nilai ajaran Islam diterjemahkan dalam banyak nilai dan setidaknya ada tiga nilai dasar ekonomi Islam yakni Adl, Khilafah, dan Takaful.

Pertama, Adl atau keadilan merupakan nilai paling asasi dalam ajara Islam. Menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman adalah tujuan utama dari risalah para Rasul-Nya. Islam menempatkan keadilan sebagai unsur paling utama dalam muqashid syariah. Ibnu Taimiyah menyebut bahwa keadilan sebagai nilai utama dari tauhid. Sedangkan Sayyid Qutb menyebut keadilan sebagai unsur pokok yang konprehansif dan paling penting dalam semua aspek kehidupan. Makna adl sendiri memiliki nilai-nilai turunan yang terdiri dari persaman kompensasi, persamaan hukum, moderat, dan proporsional. Nilai-nilai tersebut hanya dapat terwujud apabila setiap orang menjunjung tinggu nilai kebenaran, kejujuran, keberanian, kelurusan, dan kejelasan.

Kedua, Khilafah. Konsep Khilafah dapat dijabarkan sebagai amanah dan tanggung jawab manusia terhadap apa-apa yang telah dikuasakan kepadanya, dalam bentuk sikap dan perilaku terhadap Allah, sesama, dan alam semesta. Makna Khilafah lebih lanjut juga dapat dijabarkan sebagai tanggung jawab berperilaku ekonomi dengan cara benar, tanggung jawab untuk mewujudkan mashlahah maksimum dan tanggung jawab perbaikan kesejahteraan setiap individu.

Ketiga, Takaful atau konsep penjaminan oleh masyarakat. Konsep ini merupakan bantuan yang diberikan masyarakat kepada anggotanya yang terkena musibah atau yang kurang mampu. Dalam hal ini, jaminan yang diberikan tidak hanya bersifat material, namun juga bersifat na’nawiy atau nonmeterial. Konsep takaful ini terdiri dari, jaminan terhadap pemilikan dan pengelolan sumber daya oleh individu, jaminan setiap individu untuk menikmati hasil pembangunan, jaminan setiap individu untuk membangun keluarga sakinah dan jaminan untuk amar ma’ruf nahi munkar.

Selanjutnya, setelah nilai ajaran Islam dapat dipenuhi, maka perlu adanya kaidah-kaidah pokok untuk membangun struktur ekonomi Islam yang digali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang secara sedehana disebut dengan prinsip ekonomi Islam. Prinsip ekonomi Islam sendiri berfungsi sebagai pedoman dasar bagi setiap individu dalam melakukan kegiatan ekonomi. Namun, agar manusia dapat menuju falah, perilaku manusia perlu diwarnai dengan semangat dan norma ekonomi Islam, sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai ajaran Islam. Sehingga, keberadaan prinsip-prinsip ekonomi Islam tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Adapun prinsip-prinsip yang menjadi kaidah pokok dalam membangun struktur ekonomi Islam terdiri dari resource utilization, compensation, effeciency, professionalism, sufficiency, equal opportunity, freedom, cooperation, competition, equilibrium, solidarity, dan symmetric information.

Keberadaan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ekonomi Islam memberikan peluang dalam membangun sistem ekonomi yang adil. Munculnya sistem yang adil inilah yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Sehingga, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan tidak akan ditemukan lagi. Selain itu, akan terbentuk karakter manusia yang jujur dan adil, di mana kehidupannya tidak dihabiskan hanya untuk urusan dunia, namun juga untuk meraih kebahagiaan akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here