Pemuda Dam Raman dan Konsistensi Gerakan Pemberdayaan

137

Penulis : Dwi Nugroho

Dulu, Dam Raman dikenal sebagai tempat yang mempunyai konotasi negatif karena banyak remaja-remaja menggunakannya sebagai tempat untuk berpacaran dan pesta minuman. Tidak hanya itu, keadaan Dam yang sepi dan tidak terurus, karena berada di perbatasan 3 daerah, membuat banyak aktivitas kriminal sering terjadi. Sehingga, orang enggan untuk mengkategorikannya sebagai tempat yang nyaman.

Tidak banyak orang paham dengan potensi dam air tersebut, karena orang mengenal bahwa tempat tersebut merupakan genangan air dan tempat untuk mancing saja. Padahal, jika orang-orang 3 desa di sekitar Dam Raman sadar, itu akan menjadi tempat yang prestisius untuk menumbuhkan sektor ekonomi mereka. Namun kesadaran masyarakat sekitarnya belum terbangun untuk bergerak mengelolanya.

Dua tahun lalu, tepatnya, pemuda desa bernama Dharma Setyawan mengajak 23 pemuda desa Srisawahan, tempat asalnya, untuk membangun Dam tersebut sebagai pusat ekonomi baru. 23 pemuda tersebut kemudian membuat sebuah komunitas warga #ayokedamraman yang tersentralisasi sebagai gerakan pemberdayaan. Projek pertama mereka adalah menetralisir keberadaan Dam Raman sebagai tempat negatif dan membangunnya menjadi tempat wisata warga yang damai, ramah, dan aman.

Tidak mudah tentunya mengumpulkan 23 anak muda generasi 90an untuk berdaya. Namun, upaya meyakinkan bahwa Dam Raman mempunyai potensi secara berguyur dilakukan oleh Dharma Setyawan. Penyadaran tersebut dilakukannya dengan memberikan contoh-contoh desa wisata yang mandiri tanpa mengharapkan peran pemerintah.

Gerakan#ayokedamraman dalam perjalanannya tidak lebih dari gerakan yang mencoba merangsang kesadaran warga untuk berdaya. Mereka membunuh opini-opini masyarakat yang mencoba mendeskreditkan kreatifitas mereka. Pada dasarnya mereka juga ingin membuktikan bahwa remaja bukan lagi bagian dari sisi negatif desa, namun remaja adalah motor penggerak desa dalam berbagai bidang.

Kesadaran tersebut hadir ketika pemikiran kreatif pemuda Srisawahan, Dharma Setyawan, berusaha meyakinkan bahwa ini (Dam Raman) akan menjadi tempat wisata yang arif dan fascinating. Sehingga, pemikiran-pemikiran yang dapat merefleksi asumsi masyarakat secara terus-menerus digulirkan. Diskusi-diskusi berbasis sosial dan ilmiah semakin aktif dilakukan dengan, baik pemuda Srisawahan dan juga tim metrouniv.ac.id.

Gotong royong adalah falsafah yang mereka pegang. Mereka percaya bahwa kemerdekaan Indonesia dulu dapat kita raih dengan upaya bergotong-royong dan saling bahu-membahu membebaskan dari nilai-nilai kesengsaraan. Dan, ketika diskusi dapat berjalan, kesadaran mereka, pemuda Dam Raman, semakin tinggi atas kekuatan gotong royong untuk berdaya. Dengan mengoptimalkan kekayaan warisan nenek moyang, gotong royong, mereka membangun sebuah gerakan pemberdayaan.

Gerakan ini bermula ketika Dharma Setyawan, seorang dosen dan dosen saya juga, mengajak beberapa mahasiswa, yang menjadi bagian dari metrouniv.ac.id, untuk melakukan studi lapangan di Dam Raman. Kunjungan pertama dilakukan di waktu sore hari, yang menyimpulkan bahwa ini bisa diolah untuk jadi pariwisata warga. Akhirnya, dari studi lapangan tersebut, mereka, mahasiswa yang menjadi bagian metrouniv.ac.id, melai bergerak mengkampanyekan Dam Raman ke publik.

Pelibatan mahasiswa memang tidak dapat diunderestimate untuk mengkampanyekan Dam Raman ke publik. Kampanye-kampanye melalui media sosial instagram, Facebook Page, youtube, dan juga pemanfaatan website sebagai laman yang dapat mengulas Dam Raman sedetail mungkin, menjadi jembatan komunitas #ayokedamraman untuk meyakinkan bahwa Dam Raman yang saat ini bukan Dam Raman yang lalu. Gerakan komunitas #ayokedamraman mendeskripsikan bahwa semua daerah dapat dibangun jika civilization di dalamnya mempunyai semangat pemberdayaan.

Namun, sayangnya, saat ini kebijakan pemerintah mengandaskan ruang belajar yang terbuka berbasis profesionalitas di metrouniv.ac.id. Saya pikir metrouniv.ac.id adalah ruang belajar yang dapat diakses siapa saja. Diskusi yang dilakukan pun diskusi yang intensif dan bukan hanya sebuah teori tanpa pendaratan.
Sebuah konsep/teori/pemikiran tanpa realisasi itu bagai debu yang bertebaran. Jadi, apa? Ya teori-teori itu harus ada realisasinya, yang menguatkan bahwa teori itu ada nilainya. Metrouniv.ac.id dulu coba mengkounter hal itu, yang mana selain mengadakan kelas kreatif, diskusi aktif, juga melakukan pendaratan ide.

Saya pikir, fenomenalnya Dam Raman kala itu adalah akibat dari konsistensi gerakan pembangunan bukan hanya karena ide. Remaja Srisawahan pada tahap ini telah mengambil peran yang luar biasa, yang mana mereka secara berguyur melakukan perubahan dengan merubah layout Dam Raman dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia.

Namun sayangnya, setelah Dam Raman menjadi pembicaraan publik dan banyak uang yang berputar di sana, beberapa pihak swasta dan juga pemerintah masuk untuk mengambil bagian. Hasilnya, gerakan yang berdasarkan pada nilai-nilai sosial terdistrupt, sehingga Dam Raman yang dikenal sebagai tempat yang arif menjadi tempat yang crowded dan menghilangkan pesan ecologi.

Kita semua pasti mengenang hal itu, dimana dulu Dam Raman adalah tempat yang membuat warga tersenyum, menjadi percontohan pemberdayaan desa, dan tempat yang menyajikan keindahan alam dan lingkungan. Tidak ada yang salah pada tahap ini, karena normal jika pihak-pihak berduit masuk untuk mendapatkan duit. Tapi, apakah mereka paham konsep sosial pemberdayaan? Selamanya yang berduit pasti memiliki kekuasaan dan kehendak.

Setelah Dam Raman menjadi kenangan dan perputaran uang di sana pun menurun drastis, saya sangat bangga dan kagum pada pemuda komunitas #ayokedamraman. Beberapa dari mereka yang dulu aktif dalam aktivitas pembangunan wisata warga ini, saat ini, mereka mempunyai misi untuk membangun kembali wisata Dam raman. Gerakan mereka tentu akan butuh banyak waktu untuk memperbaiki image dan membangun fasilitas yang instagramable.

Saya mengenal salah satunya adalah Dadang, teman saya dulu di Pare, yang juga penggerak #ayokedamraman. Kurang lebih 6 bulan kami bersama di karantina di Pare, saya mengenal baik sifat dan kemauannya. Tidak jarang kami membincang tentang pariwisata dan juga Dam Raman ketika makan atau melakukan perjalanan wisata.
Ketika kami berkunjung ke kampung coklat, Blitar, saya sempat heran karena itu hanya memanfaatkan keberadaan pohon kakao untuk membuat tempat wisata warga. Saya juga sempat membincang keberadaan Dam Raman dengan teman-teman saya di sana dan sebagian dari mereka menegaskan bahwa kok bisa. Kemudian saya jelaskan kronologis gerakanya dan mereka meresponnya dengan baik.

Artinya Dam Raman adalah tempat yang merangsang gerakan-gerakan warga untuk bergotong-royong. Bahkan pierre Bourdieu dan Fukuyama menjelaskan bahwa gerakan yang berlandaskan pada sosial akan berpotensi membangun civilization. Di sisi lain Dr Pujo semedi menyayangkan teori-teori yang tanpa realisasi. Jadi, saat ini di era revolusi industri 4.0 bukan hanya teori namun aplikasinya.

Gerakan yang konsisten komunitas #ayokedamraman secara tidak langsung akan mengkritik pemerintah bahwa membangun bukan masalah kebijakan, uang, dan kekuasaan, tapi ini masalah komunikasi dan kolaborasi. Saya rasa komunitas ini lebih cerdas dan militan dalam membangun daerahnya. Tanpa modal yang banyak, teori teori langit, dan perizinan ini dan itu mereka lebih mampu merubah keadaan. Pemangkasan perizinan pemerintah dengan memangkas orang-orang yang bekerja di eselon 3, 4, dan 5 bukan menjadi pemecahan masalah dalam pembangunan. Karena, ini permasalahan gerakan dan konsistensi.

Saya percaya bahwa gerakan-gerakan komunitas #ayokedamraman diminati di berbagai daerah, maka warga tidak membutuhkan lagi peran pemerintah, hanya untuk memberikan sembako. Dewasa ini juga, banyak dana bantuan yang dipalsukan dan juga data yang tidak kredible. Jika hal itu bisa dilakukan, maka gerakan sabuk hijau Wangari Maathai akan mampu mengcounter aktivitas urbanisasi masyarakat desa ke kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here