Penulis : Dwi Nugroho

Menyoal tentang payungi, saya awali dengan kalimat “saya ingin belajar disini tentang gerakan pemberdayaan dan gotong royong”. Dua┬átahun yang lalu ketika saya menjadi bagian dari gerakan #ayokedamraman, menjadi tim publikasi, saya menyadari bahwa gerakan yang memang menjadi warisan nenek moyang, gotong royong, atau istilah kerennya adalah social capital, adalah sebuah frasa yang membangun.

Payungi dan dam raman merupakan gerakan yang sama namun pelaku yang berbeda. Gerakan #ayokedamraman merupakan gerakan sosial kolektif yang diperankan oleh 23 anak muda, generasi 90an. Berbeda dengan payungi, dimana gerakan ini dibangun dengan melibatkan perempuan-perempuan yang saya kira mereka adalah generasi 60-80 an.

Gerakan ibu-ibu ini, saya pikir, merupakan respon mereka terhadap zonasi ekonomi dan hegemoni industri 4.0 yang memaksa orang berfikir kreatif untuk membangun lingkungannya. Gerakan sosial yang bersinergi dengan perkembangan teknologi tentu akan memberikan nilai tersendiri di lingkungan masyarakat. Tidak hanya manfaat ekonomi namun juga psikologi. Mengapa demikian? Saya percaya bahwa gerakan sosial yang dilakukan secara sustainable akan merangsang jiwa-jiwa filantropi masyarakat untuk berduyun-duyun membangun peradabannya.

Perebutan ruang kota

Ruang kota yang sempit karena terhimpit oleh bangunan-bangunan kapital secara terus-menerus melakukan marjinalisasi terhadap ekonomi mikro masyarakat. Purnawan Basundoro, dalam bukunya merebut ruang kota, mendemonstrasikan tentang pertikaian antara masyarakat kapital dan partikelir yang berjuang hidup di tanah kota. Perebutan ruang kota ini diperburuk dengan aktivitas urbanisasi masyarakat desa yang mencoba memperbaiki kelas ekonominya, yang melakukan migrasi dengan tujuan mencari sumber rejeki.

Sementara itu, orang tidak sadar bahwa kehadirannya ke kota tidak hanya mengambil hak hidup tetapi juga menciptakan permasalahan baik polusi, sampah, dan perebutan ruang. Basundoro dalam hal ini mengatakan bahwa urbanisasi akan menciptakan pertikaian yang berkepanjangan antara orang lama dengan baru. Terlebih, kehadiran secara berguyur akan memojokkan masyarakat kota. Masyarakat kota yang tidak memiliki creative skill akan terpisah dengan universal regulation of government. Tentu mereka hanya akan tinggal di pinggiran kota dan menikmati ketidaktahuan dan ketidakmampuannya dalam menjawab tantangan yang berguyur hadir.

Gerakan urbanisasi masyarakat desa, yang menganggap bahwa kota adalah tempat terbaik untuk mendapatkan sumber penghidupan, adalah gerakan yang sejak saat ini harus dihentikan. Mengapa? Pertama, kehadiran industri 4.0 yang sejatinya memudahkan aktivitas masyarakat justru memberikan dampak negatif pada segmen ekonomi. Robotisasi dan komputerisasi yang merupakan fasilitas yang ditawarkan oleh industri 4.0 diproyeksikan dapat menggantikan peran manusia dalam dunia industri maupun pemerintahan. Jadi, alasan apalagi yang kemudian dapat meyakinkan orang untuk pergi ke kota? Ekonomi, pendidikan, politik, atau apa?

Kedua, pemerintah belum lama ini menerbitkan regulasi untuk memangkas ruang-ruang kerja yang akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi atau hanya menyita waktu pelayanan kepada masyarakat. Sehingga, ruang kerja eselon 3, 4, dan 5 akan dipangkas dengan memanfaatkan ringannya teknologi. Kebijakan ini akan berdampak pada jumlah angkatan kerja, sehingga semakin sedikit peluang kerja yang akan tersedia di perkotaan. Itu diperburuk dengan stagnasi pemikiran dan skill yang dimiliki. Akhirnya, jika ini terjadi secara terus-menerus, kota akan mendapatkan masalah yang krusial karena terbatasnya ruang kerja.

Kebijakan untuk memindahkan Ibu Kota yang dilakukan pemerintah pada dasarnya selain mewujudkan misi pemerataan pembangunan dan ekonomi juga karena lingkungan yang sudah tidak sehat. Ini merupakan alasan ketiga bahwa kota saat ini sangat miskin pada sektor lingkungan dan sosial. Tidak banyak orang yang sadar bahwa lingkungan sosial dan alam dapat mempengaruhi kualitas kehidupan dan kejernihan pemikiran. Orang akan mudah melakukan hal-hal negatif jika kebutuhannya tidak direspon dengan baik. Saling sikut-menyikut akan menjadi hal yang biasa jika hal ini dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan arif untuk menyelesaikannya.

Lingkungan sosial, misalnya, jika tidak dipelihara dengan baik, maka dampaknya adalah tidak terkonsolidasinya pembangunan. Hasilnya, orang-orang yang bersikap individual tidak akan mampu menafsirkan kebutuhan lingkungan. Sehingga, masalah-masalah mendasar kota tidak mampu diselesaikan ataupun diminimalisir karena sikap individualnya.

Di sisi lain, alam yang menyediakan sumber daya yang melimpah menjadi kebutuhan sekunder yang harus dilengkapi. Namun, sumber daya alam perkotaan, dewasa ini, jumlahnya sudah sangat terbatas karena ruang terbuka hijau kota banyak dialihfungsikan untuk pembangunan infrastruktur baik negara maupun swasta. Maka, respon apa yang kemudian ingin kita lakukan untuk menjawab fenomena tersebut.

Gerakan pemberdayaan berbasis gotong royong

Payungi adalah ruang kreatif yang mendorong perempuan-perempuan untuk berdaya. Gerakan yang tersistemasi oleh nilai kerukunan dan sikap tanggung jawab membuat aktivitas yang dilakukan memberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Gerakan perubahan ini mengingatkan bahwa permasalahan-permasalahan diatas sebenarnya mudah diselesaikan apabila masyarakat berdaya dengan memaksimalkan nilai-nilai warisan nenek moyang. Gerakan yang memanfaatkan kekayaan sosial masyarakat Yosomulyo, khususnya orang-orang yang tinggal di sekitar pasar digital Yosomulyo Pelangi, mampu menjawab perubahan zaman.

Industri 4.0 yang kemudian membentuk klusterisasi, pada dasarnya tidak memberikan pengaruh pada perempuan-perempuan payungi yang kreatif. Mengapa? Catatan pertama, bahwa #1tahunpayungi telah menyadarkan bahwa gerakan yang berbasis sosial dan lingkungan mampu mendegradasi permasalahan perubahan mode. Dengan memanfaatkan kekuatan sosial, mereka mampu secara berduyun-duyun menciptakan ruang kerja dengan omset yang tidak sedikit.

Catatan kedua, sampai hari ini pertukaran uang yang tercatat setelah 1 tahun pagelaran pasar adalah 1,8 miliar. Hasil yang sangat fantastis jika dilihat dari letak geografi dan keadaan demografi masyarakat payungi. Tentu tidak mudah untuk mencapai hasil tersebut hingga terbangun kecerdasan untuk saling support dan memaksimalkan hadirnya industri 4.0.

Catatan ketiga, beberapa hal penting yang seharusnya diaplikasikan di district lainnya, bahwa kita harus bijak dalam memaksimalkan keberadaan industri 4.0 yang diperkenalkan oleh German di Hanover Exhibition pada tahun 2011 lalu. Saya pikir, proyeksi Asian Development Bank yang memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami stagnasi pada angka 5,1 persen dan data BPS yang mengungkapkan bahwa angka pengangguran Indonesia mencapai level 5,1 persen akan terpatahkan dengan gerakan warga seperti yang dilakukan oleh masyarakat Yosomulyo Pelangi.

Lebih lanjut, gerakan ini akan menjadi gerakan sabuk hijau yang akan mengurangi jumlah urbanisasi ke sudut perkotaan hanya untuk mencari lapangan kerja. Thomson Reuters Foundation yang menjelaskan tentang kota-kota cerdas di dunia yang sesak adalah akibat banyaknya penduduk yang berdomisili di sudut kota. Sehingga, apa yang dijelaskan oleh Purnawan tentang perebutan sudut kota selaras dengan permasalahan yang diungkapkan oleh Thomson Reuters Foundation tentang keadaan kota di dunia saat ini.

Terakhir, saya percaya bahwa desa ke depan akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang saat ini belum banyak orang menyadarinya. Banyak desa desa kreatif yang mampu memerdekakan warganya. Saya rasa bukan salah dari kepala desa yang tidak mampu beradaptasi dengan dunia saat ini, namun tidak terjaganya nilai-nilai luhur masyarakat, yaitu rutinitas gotong royong.

Selamat ulang tahun Pasar Yosomulyo Pelangi yang pertama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here