Pariwisata, Penginapan dan Teknologi

466

Penulis : Bayu Setiawan

Pariwisata adalah penunjang kegiatan ekonomi dalam suatu daerah, jika daerah tersebut memiliki kawasan-kawasan wisata, akan membuka peluang bagi orang-orang di sekitarnya untuk ikut menikmati pundi-pundi yang dibawa wisatawan.

Sayangnya, pariwisata masih banyak yang dikuasai oleh elit dan sangat sedikit kepemilikan rakyat biasa terhadap spot-spot penunjang pariwisata, terutama yang paling penting adalah prasarana penginapan sesuai standar dan harga yang terjangkau.

Jika dalam suatu kawasan wisata memiliki penginapan yang layak namun dengan harga sangat rasional, maka itu akan mampu menggaet para calon wisatawan terutama kelas menengah ke bawah untuk merogoh kocek lebih lama di kawasan wisata tersebut.
Jadi tidak hanya datang, mampir sebentar, foto-foto, lalu pulang dalam keadaan lelah atau mengambil penginapan yg jauh dari kawasan wisata. Tapi juga akan menginap, kemudian jajan di sekitar penginapan yg harusnya juga milik warga setempat, sarapan di sekitar kawasan wisata, dan tentunya menikmati suasana kawasan wisata lebih lama. Yang demikian pastinya akan semakin meningkatkan kualitas wisata di daerah tersebut.

Lalu bagaimana kondisinya di lapangan?.

Akhir-akhir ini Indonesia kebanjiran geliat wisata berbasis gerakan warga secara swadaya, pun, topik tentang itu memenuhi beranda media sosial saya, mulai dari mengeksplorasi potensi alam setempat, mengangkat budaya maupun adat dalam bentuk kegiatan berkala, sampai juga pada bentuk wisata desa yang dikemas secara kreatif dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia setempat dan teknologi. Semuanya tentu berjalan dengan baik.

Tapi, ada celah yang belum dimaksimalkan.

Jika kita bicara tentang ekonomi, maka kita tidak bisa lepas dengan pembahasan profit, jika profit menjadi tema utama, maka harus ada upaya, selain sisi kontinyuitas, harus ada pula usaha untuk memperbesar potensi. Dalam hal wisata swadaya, bisa saja prasarana penginapan dikesampingkan dahulu.

Tapi, mau sampai kapan?.

Seperti yang sudah disinggung pada pembukaan tulisan ini, hadirnya prasarana penginapan mampu mempengaruhi kualitas pariwisata, setidaknya, ketika anda ingin berwisata, terutama di tempat yang jauh, anda tentu mempertimbangkan dahulu soal penginapan. Dalam hal ini pula rasanya, penginapan juga mampu berperan meningkatkan jangkauan wisatawan.

Permasalahnya saya kira, dalam wisata swadaya, pengadaan prasarana penginapan yang tentu memerlukan sumber daya hospitality dan pemeliharaan yang rumit tidak bisa terjangkau oleh ‘rakyat biasa’, ini belum bicara soal budget untuk property, lho.

Oleh karena itu, sampai sekarang prasarana penginapan hanya dikuasai oleh hotel atau orang-orang bermodal jumbo yang level hidupnya tidak bisa lagi disebut sebagai ‘rakyat biasa’. Lalu bagaimana caranya agar wisata swadaya mampu menghadirkan prasarana penginapan milik mereka sendiri, atau, dari pandangan calon wisatawan; bagaimana caranya supaya penginapan-penginapan itu bermunculan di daerah wisata tapi dengan biaya kerakyatan tanpa harus jauh-jauh sewa hotel di kota terdekat-yang tentu agak tinggi harganya?.

Berbicara tentang teknologi dalam pariwisata dan penginapan sebagai pendongkrak ekonomi rakyat, maka kita bisa pula melihat fenomena jaringan penginapan murah berbasis teknologi yang akhir-akhir ini menjadi primadona di luar negeri, khususnya India.

Jika saya boleh bilang, India adalah negara paling top untuk soal hal yang kere-hore. Mulai dari teknologi terapan, gadget, juga yang terakhir saya perhatikan adalah bisnis properti. Orang-orang kuno boleh saja memandang bisnis properti sebagai bisnis miliarder, tapi oleh India, bisnis properti seakan diredifinisi menjadi bisnis ‘kacang goreng’. Bagaimana tidak, salah satu raksasa startup India di bidang hospitality yaitu OYO Rooms mampu menyulap ruang kamar anda dan juga kos-kosan menjadi kamar setara hotel bintang 4 lengkap dengan TV, Wifi dan AC serta semua manajemen mulai dari maintenance hingga training pegawai penginapan ditangani oleh startup tersebut, namun dengan biaya menginap yang sangat murah.
Pemilik kamar hanya perlu ongkang-ongkang kaki sambil ngopi saja untuk terima notifikasi uang masuk setiap pagi, karena urusan promosi penginapan dan lain sebagainya sudah ditangani oleh tim mereka. Tentunya dengan sistem investasi dan bagi hasil, adanya jaringan penginapan murah seperti ini sangat dibutuhkan bagi perkembangan pariwisata, dan lebih menguntungkan dari sisi pemilik dan secara tidak langsung menghidupi kegiatan ekonomi di sekitarnya. Anda tahu Alfamart dan Indomart? Kira-kira seperti itu lah, namun dengan kontrol keuangan yang langsung bisa dipresentasikan di aplikasi oleh pemilik kamar, dan pastinya tidak mematikan kegiatan ekonomi yang sudah ada sebelumnya.

Di Indonesia, jaringan hotel murah sebenarnya sudah mulai berkembang tiga tahun lalu, namun karena kebanyakan vendor jaringan mematok syarat yang terlalu tinggi, maka jaringan penginapan ini hanya dirasakan oleh pemilik properti di kota besar dan juga homestay yang dimiliki oleh orang-orang kaya, tidak sampai menjangkau ke daerah-daerah wisata rintisan atau bahkan wisata swadaya. Lagipula, vendor jaringan hotel yang ada saat ini hanya sebatas bekerja sama dengan menumpang nama atau jualan tiket saja dengan mencantumkan daftar hotel pada aplikasi buatan mereka, belum juga sampai model franchise ala minimarket waralaba yang tinggal terima beres. Setidaknya untuk daerah Lampung, belum kelihatan.

Meski begitu, pengelola wisata swadaya sebenarnya bisa saja secara gotong royong membuat sebuah homestay dengan standar pariwisata, tidak perlu muluk-muluk atau terlalu luas, bermodal 6 buah ruangan 4x4m dengan kamar mandi di dalam sudah memenuhi standar layak sebuah homestay untuk wisata. Untuk pengelolaan dan lainnya bisa diadakan pelatihan oleh departemen yang mengurusi pariwisata dan perhotelan.

Adanya teknologi terutama internet memungkinkan pengembangan pariwisata kerakyatan menjadi lebih mudah, dengan membangun semacam jaringan crowd funding yang investor-investor nya bisa terdiri dari rakyat biasa, bisa diakses dengan mudah dan transparan, maka kemungkinan pembiayaannya akan lebih cepat. Apalagi, bila wisata swadaya yang dipresentasikan mempunyai prospek yang cerah. Semacam kegiatan-kegiatan berkala atau memiliki jadwal karnaval yang menarik, bila pelaksanaannya bisa memakan waktu berhari-hari, atau eventnya langka, maka tentunya akan berpengaruh pada tingkat okupansi untuk penginapan.

Jika tiap-tiap wisata swadaya saling bersinergi, maka pendanaan dari investor bisa disebar untuk pengembangan prasarana masing-masing daerah, dengan begitu, bisa saja dibuat semacam map wisata yang saling berkait yang isinya misal jadwal karnaval, spot wisata, tempat penginapan milik rakyat, juga tempat-tempat kuliner. Dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sudah berkembang pesat seperti saat ini, rasanya pengelolaan pariwisata kerakyatan serta kegiatan promosi wisata bisa saja dilakukan dengan maksimal. Ke depannya, tiap-tiap wisata swadaya harus mulai membangun server sederhana yang berisi data-data apa saja yang terkait dengan area wisatanya, minimal bisa diakses secara lokal atau di sekitar area tempat wisata, lalu bagi pegiat wisata swadaya harus pula mulai proyek untuk menggabungkan data dari tiap wisata swadaya maupun wisata yang sudah ada dan berbasis kerakyatan ke dalam sebuah wadah digital tersendiri yang bisa diakses secara daring. Tidak lagi mengandalkan media sosial sebagai tempat penyimpanan data-data, melainkan dalam portal mandiri yang saling terintegrasi.

Tapi, itu kembali lagi kepada kesadaran dan kemauan pengelola wisata, baik yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun yang dikelola secara swadaya. Meski menurut saya, hal-hal semacam ini harus jadi tanggung jawab pemangku kepentingan daerah supaya mulai berpikir bagaimana caranya agar prasarana yang demikian mampu diakomodasi, sehingga hasil akhirnya adalah kemajuan kualitas pariwisata di daerah kekuasaannya.

Yang jelas, para stakeholder di bidang pariwisata harus mulai memikirkan masa depan terutama orang-orang yang menjadi bagian langsung di daerah wisata, sehingga adanya destinasi wisata tak hanya sebagai embel-embel dan laporan tahunan kementrian pariwisata, namun juga menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Jadi, untuk anda yang kebetulan berkecimpung di dunia pariwisata khususnya wisata swadaya, sudah siap bikin homestay?, eh maksudnya, siap menyambut masa depan?.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here