Penulis : Nadzif Fajar

Payungi adalah Intelectual Property atau IP (kekayaan intelektual), dikembangkan oleh pak Dharma Setyawan dan team yang mengusung misi pemberdayaan masyarakat bertemakan pasar traditional.
Akhir bulan ini, gelaran Payungi sudah memasuki usia 1 tahun. Tentu harapannya terjadi beberapa bahkan banyak kemajuan tentang misi yang diusung tadi. Pengembangan

Karakter (Maskot)Bermula dariĀ  Esy Talkshow kira-kira awal tahun 2019, beliau memberi kesempatan saya untuk sharing kegiatan dan kesibukan selama ini kepada para mahasiswa. Selain sejalan dengan roadmap Esy tentang pengembangan ekonomi kreatif, selebihnya diharapkan menjadi stimulus mahasiswa untuk menggali lebih jauh hasil sharing sore itu. Tentu saya berfikir, jika membahas teknis tidaklah mungkin. Bicara proses pengalaman pun sepertinya akan menyita waktu banyak. Akhirnya saya putuskan untuk membahas tentang pengembangan IP. Walau terkesan tema yang berat. Karena pengaruh profesi dan hobby tentu tidak akan jauh berbicara lingkup industry kreatif, khususnya art industry.

Saat itu, saya memberikan contoh beberapa IP Jepang, yang sudah seabad lebih maju dari bangsa kita, untuk dianalisa.

Doraemon misalnya, produk pertamanya adalah komik dan berkembang lalu muncul produk-produk turunan lain (alih media) yang tentu nilai jualnya tinggi, seperti Animasi, Tv series, mainan, game, merchandise, dsb.

Bahkan, pedagang kaos atau merchandise kecil saja ikut menikmati berkah dari keberadaan Doraemon ini. Terlepas dari mereka membajak atau membeli lisensi nya.
Lalu ada Gundam. Uniknya, design Gundam ternyata terinspirasi dari sosok samurai. Terlihat jelas dalam design kepala dan pedang katana yang diwakili oleh light saber. Betapa dahsyatnya kearifan lokal dituangkan dalam IP ini mendunia.

Dan masih banyak lagi contoh IP lain yang mungkin skripsipun tak cukup untuk membahasnya.
Bayangkan saja, sebuah ide gagasan fiksi (yang tentu didasari riset) dapat berdampak baik dan memberi lapangan pekerjaan masyarakat banyak.
Singkat cerita, setelah obrolan panjang dengan beliau, tercetuslah gagasan untuk menciptakan sosok Pay dan Ungi ini.

Tantangan

Proses designing character tentu butuh waktu panjang. Apalagi terbatasnya sumber daya manusia. Kenapa membutuhkan waktu lama? Selain hanya saya seorang, yang memiliki banyak kekurangan kemampuan hamba, juga disini saya memikirkan tentang jangka panjang pengembangan karakter ini kedalam berbagai medium. Alih media mungkin bahasa paling tepat menggambarkannya.

Selain itu tentu menguatkan karakter pribadi karakternya. Agar masyarakat merasa dekat, dan merasa Pay & Ungi adalah bagian dari refleksi diri mereka.
Tentu harus penuh perjuangan belajar tentang aspek-aspek dan ilmu baru.

Harapan

Pertamatentu kembali kepada misi pemberdayaan masyarakat. Diharapkan sosok Pay & Ungi memberi sumbangsih positif pada perkembangan Payungi. Bahkan malah berkembang lebih besar.

Kedua, semoga menjadi stimulus teman-teman khususnya pemuda pemudi kota Metro, untuk aware tentang industri kreatif khususnya art industry. Syukur-syukur ikut serta belajar bersama mengembangkan IP .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here