Embung Senja

293

Tempat ini persis seperti Dam Raman, hanya saja kurang luas. Datang ke sini saya diminta bicara pengalaman gerakan #AyokeDamRaman dan Payungi. Di Sumatera Selatan, gerakan inovasi Desa memang sedang difokuskan dalam pembangunan desa wisata. Dalam roadmap Tim Pengembangan Inovasi Desa Musi Banyuasin, ada 10 tempat wisata desa salah satunya Embung Senja.

Dimulai dari dorongan kepala Desa Suriyanak, dan digerakkan oleh ketua Karang Taruna Nurjaya (nung) dan anggota-anggota mudanya. Seperti halnya problem dasar, gerakan warga seperti ini banyak yang pesismis terutama kaum tua di Desa Gajah Mati, Musi Banyuasin. Rawa-rawa yang sebelumnya penuh dengan rumput belukar, banyak ular, dan akar-akar liar, diangkat dengan gotong royong tenaga manusia selama 3 bulan. Mereka bergotong-royong membersihkan rawa kemudian membangun saung-saung dari kayu gelam di atas air. Membuat spot selfie dan jembatan kayu di atas air untuk pintu masuk menuju Embung Senja.

Sejauh ini juga sudah ada wahana Bebek Air, dan seperti biasa mereka punya kendala mengatur warung-warung warga yang belum tertata rapi. 1,5 tahun berjalan, tiap bulan pemasukan kotor dari tiket masuk 5 ribu per orang mencatatkan omset 10 juta lebih per bulan. Angka yang masih sangat kecil dengan puluhan orang penggerak. Tapi menurut saya bukan angka pendapatan jadi pembahasan, pekerjaan rumah wisata Embung Senja ada pada solidaritas membagi tugas para penggerak.
Saya mencoba memberi masukan utama yaitu mengelola media instagramnya. Sudah 1,5 tahun ini, instagram mereka memiliki follower dengan jumlah 1300 lebih, masih kalah jauh dibanding IG 2 tahun #AyokeDamRaman berjumlah 5.800 lebih. Namun kelebihan Embung Senja pengelolaan dipegang penuh oleh Karang Taruna, bahkan kepala desa menjual mobilnya untuk beli 5 Bebek gowes. Persis seperti Dam Raman komunitas #AyokeDamRaman hutang dan cari di Tangerang.

Kami juga memetakan roadmap Embung Senja ke depan harus ada wahana tambahan seperti; Flying Fox, Panahan, Lempar Pisau, Lomba Memancing, Panggung Musik, Lomba perahu dayung dan lainnya. Masih banyak yang harus ditambah, ke depan mereka merencanakan akan datang ke Payungi untuk belajar media digital pengelolaan website, pemberitaan, desain grafis, dan video di Payungi University.

“Saya ini tidak tamat SD Pak, tapi saya tidak ingin anak muda sini pergi ke kota. Potensi Embung Senja kalau kita kompak, cukup untuk memberi masa depan para pemuda di sini mengembangkan Embung Senja ssbagai Desa Wisata. Musi Banyuasin juga sedang naik trend wisata desa,” ucap Nurjaya ketua Karta dengan semangat.
Selain Desa Gajah Mati ada belasan perwakilan aparat Desa lain di 4 kecamatan Musi Banyuasin. Berjumlah total 227 desa dan 15 kecamatan, Kabupaten Musi Banyuasin memiliki APBD 4,2 Triliun. Angka yang cukup besar, dan kabupaten ini adalah kabupaten Moncer Alex Noerdin naik menjadi Gubernur saat itu. Minyak, Gas, dan perkebunan Sawit menjadi andalan pemerintah. Namun warga sudah menyadari mereka tidak dapat secara merata hasil industri tersebut. Kesadaran mengelola desanya makin kreatif, membuat mereka yakin bahwa alam Musi Banyuasin bisa diperbaiki dan menjadi alternatif dalam sinergi pembangunan ekonomi desa.

Sebuah Desa di kecamatan Plakat tinggi bahkan memulai menggunakan dana desa untuk membangun fasilitas olahraga. Dana Desa 700 juta, dan dana APBD dikucurkan ke Desa sejumlah 1 Miliar, total 1,7 miliar dimulai untuk membangun fasilitas olahraga di Desa. Bagi saya uang segitu sangat besar dan akan memberi dampak jika digunakan untuk membangun Desa Olahraga. Kepala Desa yang masih sering memghabiskan anggaran Desa untuk Gapura, Icon Desa, plang Desa berbiaya ratusan juta harus ditinjau ulang. Sudah banyak kepala desa masuk bui, dengan cara berpikir cari ujung pengerjaan bangunan infrastruktur desa. Mulailah bertobat dan gunakan dana itu untuk inovasi Desa Wisata, Desa Budaya, Desa Olahraga, Desa Kerajinan, dan roadmap desa lainnya. Tentu budaya gotong royong dan Transparansi adalah Koentji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here