Desa Wisata

0
365

Mendengar “Desa Wisata” pada dasarnya bukan hal baru, tapi yang pasti bisa diciptakan. Jika sebuah desa diprogramkan ke arah destinasi wisata, maka akan memberi peluang untuk memaksimalkan desa sebagai ruang hidup yang baik. “Jangan Tinggalkan Desa,” ungkap @Wahyudi Anggoro Hadi Lurah Desa Panggung Harjo yang 2017 mendapat penghargaan lurah terbaik.

Saya mencoba memetakan trilogi perubahan Desa. Pertama pengetahuan, hal ini adalah awal kesadaran dibangun. Dimana orang-orang desa cukup dalam pemenuhan akses informasi, dilatih, dididik untuk sadar akan pengetahuan. Ruang-ruang edukasi bisa muncul dari forum warga, jamaah masjid, ibu-ibuk PKK dan lainnya. Yang paling penting adalah memberi ruang bagi anak muda berkumpul dan memberi mereka berbagai pengetahuan melalui buku, video, dan gambar desa lain di media sosial.

Kedua Potensi, Desa Wisata dilihat setidaknya dari 3 potensi; Alam, Budaya dan Ruang Kreatif.
Jika di desa memiliki potensi alam yang baik ini adalah pintu dimana kita menciptakan kondisi yang lebih baik. Pemandangan alam, pohon, tebing, sawah, embung, bunga, bambu, dan semua potensi itu ditingkatkan sampai memenuhi unsur eco-wisata. Wisata jenis ini yang utama, gerakannya tidak merusak, pengelolaan sampah, dan semakin membuat desa tetap surplus ecosystem organik.

Desa Budaya dibangun dengan kesadaran mempertahankan tradisi, nilai lokal, dan entitas masyarakat komunal. Pada dasarnya bukan menjual kebudayaan dan menghasilkan uang, tujuan utama adalah mempertahankan kearifan lokal sehingga kolektifitas tetap terjaga. Budaya menjadi modal untuk memberi perspektif bagi desa-desa yang makin individual bahkan gagal menyelamatkan hasil cipta, karsa dan karya para leluhur. Budaya sebagai warisan yang dapat menarik perhatian bagi orang-orang kota yang merindukan desa budaya.

Desa Kreatif dibangun dengan memberi peluang bagi tumbuhnya kreatifitas. Contoh saja ada desa yang membangun fasilitas olahraga kualitas nasional. Semua sarana olahraga dibangun dengan tidak main-main. Bahkan ada sebuah desa membangun lapangan bola dengan megah dengan dana desa. Tahun selanjutnya bangun yang lain. Desa kreatif misal di Sukabumi anak mudanya menanam rumput pakan kambing di lahan-lahan nganggur. Bahkan rumput hijau yang luas itu dapat dijadikan ajang selfie bagi para pengunjung. Ekonomi dari peternakan dan keindahan didapatkan sekaligus.

Ketiga adalah Gotong-Royong. Sebenarnya saya ingin menuliskan penggerak, agar seirama 3 P (Pengetahuan, Potensi dan Penggerak). Namun Penggerak saja tidak cukup, Gotong royong adalah kunci. Setelah Pengetahuan dan Potensi, Gotong Royong adalah cara kita semua untuk mewujudkan perubahan yang kita inginkan. Penggerak menjadi pemicu, tapi gotong royong mempercepat perubahan itu sendiri.

Desa Wisata sekali lagi tidak hanya bicara peningkatan ekonomi semata. Namun dimasyarakat pasca induatri, orang sekolah tujuan pragmatis menjadi peningkatan ekonomi. Mereka lupa ada suku lokal yang bertahan untuk mempertahankan ecosystem alam. Baduy, Kasepuhan Ciptagelar, Samin, Botu dan lainnya kita bisa belajar dari mereka. Desa Wisata adalah mengembalikan semua yang baik, menumbuhkan kembali harkat martabat manusia sebagai makhluk yang bersinergi dengan alam dan kreatifitas.

Dharma Setyawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here