Fenomena Sunyi : Kekerasan dalam Pacaran

50

Penulis : Wahyu Puji

Sejak kemarin, saya melihat banyak sekali postingan di media sosial berbentuk video seorang pasangan yang diduga sedang bertengkar di ruang publik. Ya, video postingan tersebut berlatar belakang tempat yang memang sangat tidak asing di Kota kecil yang saya tinggali kini.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendengar maupun melihat kasus kekerasan dalam hubungan, tidak sedikit yang masih dalam lingkup ‘pacaran’ dan korban seringkali ada pada pihak perempuan.
Dalam sebuah artikel saya juga menemukan, kekerasan dalam pacaran adalah salah satu bentuk kekerasan yang banyak dihadapi perempuan. Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 2017 menunjukkan, kekerasan dalam rumah tangga/ranah personal, termasuk pacaran, menempati urutan tertinggi dalam kasus-kasus yang dilaporkan dan ditangani oleh berbagai lembaga negara dan lembaga layanan. Dari 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan, 10.205 kasus di antaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga atau relasi personal. Dari 10.205 kasus tersebut, kekerasan terhadap istri menempati urutan tertinggi yaitu 57%, diikuti kekerasan dalam pacaran sebanyak 21%.

Hal serupa juga pernah dialami oleh teman kuliah saya. Sebagai pendengar, saya sendiri malah gagal paham tentang alasan mereka yang masih saja bertahan dalam hubungan yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi ‘kerugiannya’ seperti fisik, emosi, cum finansial.
Teman kuliah saya ini, –ia yang mengalaminya– pernah mengatakan, bahwa setelah melakukan kekerasan, pacarnya akan segera mengiba-iba, berjanji yang kesekian kali, menyangkal bahwa tindak kekerasan itu sebab cemburu yang diibaratkan sebagai tanda ‘cinta’. Lalu ia maafkan dan pada akhirnya tetap saja ada kekerasan yang berjilid-jilid.

Menurut saya pribadi, faktor-faktor selain cemburu dan ketimpangan kuasa itu sebenarnya juga sangat kompleks. Kekerasan bisa saja berakar dari hubungan dalam keluarga yang kurang sehat, namun juga tidak selalu demikian. Dan ya seharusnya apapun yang terjadi dalam kehidupan ‘orang’ tersebut, tidak bisa menjadi pembenaran bahwa seseorang boleh melakukan tindak kekerasan.
Sebenarnya, ketika seorang itu telah sadar bahwa ada yang tidak beres dalam hubungannya, ia akan mudah mencari solusi untuk keluar dari lingkaran yang menyakitinya. Namun, tidak sedikit juga korban yang tidak sadar bahwa dirinya berada dalam hubungan yang tidak sehat atau sadar tetapi malah tetap bertahan, selalu melakukan penyangkalan bahwa ia akan baik-baik saja, tetap dengan perasaan cintanya, dan optimis jika pacarnya akan berubah selama ia temani. Ia akan selalu membela bahwa pacarnya tidak seperti yang dilihatnya, –keras dan agresif. Serta banyak lagi penyangkalan lain yang membuat korban tetap merasa baik-baik saja meski telah dirugikan.

Kedengarannya mungkin, –bagi saya, irrasional, bayangkan saja bagaimana dengan legawanya membiarkan diri terkungkung dalam keadaan yang membahayakan. Tetapi ya memang itu yang sebenarnya terjadi, bahkan saya pernah mendapatkan alasan dimana para korban ini merasa seperti memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki sikap pasangannya.
Padahal perlu sekali digaris bawahi, menurut pendek ketahuan saya, struggle pasangan itu bukan menjadi tanggung jawab kita untuk memperbaiki. Sebagian besar dari kita tidak berkompeten dalam hal itu, tentu. Sehingga jika ingin melakukan pertolongan, ‘cukup’ dengan sadarkan bahwa dia memiliki masalah dan perlu mencari bantuan profesional.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki gaya berpacaran yang berbeda-beda, dan itu adalah hak masing-masing individu. Akan tetapi saya pikir tindak kekerasan dalam hubungan bukankah harus sudah dilawan sejak dalam pikiran? bisa dimulai dengan melakukan kesepakatan diawal bagi yang pacaran. Memberi batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan diri kita terhadap pasangan dan sebaliknya, karena tidak ada yang berhak mengatur tubuh dan perasaan kita selain diri kita sendiri, tidak perlu adanya intervensi apalagi hanya karena status pacar, yang terkadang kontribusinya dalam hidup kita tidak begitu berarti. Atau ya tidak usah pacaran saja bagaimana?
Karena bukankah dalam sebuah hubungan, harus ada relasi yang sehat, masing-masing pasangan saling menghargai, relasi di antara keduanya setara, dan ada rasa saling menghormati satu sama lain. Lalu bagaimana kedua belah pihak harus sadar mengenai relasi mereka, apakah ucapan-ucapan yang disampaikan sebagai pasangan memang untuk memberikan saran konstruktif atau jangan-jangan malah untuk mengontrol pasangan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here