Wahana Internalisasi Nilai-nilai Pancasila

109

Penulis: Bobi Hidayat, Dosen FKIP UM Metro

Topik yang masih menarik diperbincangkan hingga saat ini adalah tentang pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Jargon “Saya Indonesia, Saya Pancasila” banyak terlihat di sepanjang jalan atau di depan perkantoran pemerintahan. Hal ini menunjukkan ada upaya pemerintah untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang adanya pancasila sebagai dasar Negara yang sepertinya nilai-nilainya sudah mulai memudar dalam kehidupan sehari-hari.

Lahirnya Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah disadari oleh para pendiri bangsa ini sebagai salah satu syarat Negara yang berdaulat. Salah satu dasar pertimbangan lahirnya pancasila adalah keberagaman penduduk bangsa ini. Mereka sadar keberagaman baik agama, suku, adat istiadat dll itu rentan sekali menimbulkan konflik horizontal. Oleh karenanya, pendiri bangsa ini sudah merealisasikan agar keberagaman tersebut tidak menimbulkan konflik dengan menelurkan dasar Negara Indonesia sebagai ideologi bangsa yang dapat mengakomodir kepentingan dari keberagaman penduduk bangsa ini yaitu pancasila.

Pancasila adalah Nilai-nilai

Pancasila yang beberapa hari yang lalu diperingati sebagai hari kesaktian pancasila, secara filosofis mengandung makna dan nilai-nilai dalam kehidupan yang luhur dan sangat mendalam. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dari keberagaman yang perlu dijaga dan tetap terus diwujudkan. Isi dari sila pancasila yang dilambangkan dengan burung garuda memiliki nilai historis yang tinggi bagi negeri ini. Secara sederhana, pancasila merupakan bentuk representatif nilai luhur dan merupakan cerminan dari masyarakat yang beragam Negeri ini.

Hampir semua yang tercantum dalam pancasila mengakomodir seluruh nilai dalam kehidupan manasia, terutama nilai dan budaya masyarakat timur. Sila pertama mencerminkan kereligiusan masyarakat timur. Sila ke dua mengandung nilai hubungan dengan sesama manusia yang memiliki etika dan saling menghormati. Sila ke tiga mengandung arti perlu adanya persatuan dan kesatuan agar dapat kuat dan mampu mempertahankan keutuhan bangsa. Sila ke empat mengandung nilai kepemimpinan yang adil dan bijaksana serta pengambil keputusan dengan cara musyawarah untuk mufakat dengan tidak mengesampingkan cara-cara pengambilan keputusan yang lainya. Dan sila ke lima mengandung nilai pemerataan pembangunan di seluruh bangsa Indonesia. Nilai dalam Sila-sila Pancasila tidaklah mudah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara detail tertuang dalam butir-butir pancasila setiap silanya. Hal yang perlu diperhatikan adalah penanaman nilai-nilai pancasila tidak dapat dilakukan secara instan. Perlu upaya yang bersifat kontinuitas dan menyasar seluruh elemen masyarakat serta diseluruh bidang.

Wahana Internalisasi

Seiring perkembangan zaman, implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari semakin pudar, meskipun medianya semakin luas. Hal ini dibuktikan dengan banyak dijumpai prilaku mulai dari anak-anak sampai orang dewasa yang menyimpang dari nilai-nilai pancasila. Sebagai contoh anak-anak yang sukar diajak beribadah, anak-anak yang melakukan tawuran pelajar, tindak asusila pelajar, pencurian, pornogari, penyalah gunaan obat terlarang dll. Disisi lain, pada tataran yang lebih luas masih banyak dijumpai korupsi dan nipotisme yang merupakan bentuk ketidakjujuran yang dapat dilihat dimedia masa baik cetak maupun visual. Pertentangan etnis dan disintegrasi dampak menurunya toleransi juga terjadi dan diberitakan akhir-akhir ini. Hal ini membuktikan bahwa nilai yang terkandung dalam pencasila sebagai dasar Negara sudah mulai ditinggalkan. Fenomena yang perlu mendapat perhatian khusus dan serius. Perlu ada wahana untuk menanamkan kembali nilai-nilai dalam pancasila pada masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang luhur, cerminan budaya bangsa ini.

Dalam perspektif pendidikan, penanaman nilai tidak dapat dilakukan secara instan. Tidak dapat hanya menjalankan seremonial sesaat, semisal upacara dan perayaan hari besar nasional. Meskipun ini merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh. Penanaman nilai memerlukan waktu yang dapat dikatakan tidak sebentar. Perlu proses yang lama dengan berbagai metode yang digunakan. Penanaman nilai-nilai pancasila melalui wahana pendidikan melibatkan banyak komponen (sekolah, masyarakat, pemerintah dan keluarga).

Perjalanan sejarah dalam pendidikan, untuk menjaga konsistensi nilai-nilai pancasila ada pada diri siswa adalah adanya waktu yang cukup banyak dalam proses pembelajaran di sekolah. Adanya beberapa mata pelajaran yang dapat memuat nilai-nilai pancasila. Namun akhir-akhir ini, pendidikan di sekolah kurang adanya waktu untuk menanamkan nilai-nilai pancasila. Mata pelajaran yang memuat konsep dan kandungan nilai pancasila justru semakin berkurang. Sehingga perlu adanya upaya mengembalikan kembali materi atau konsep-konsep tentang pancasila yang semakin sedikit dan memberikan waktu yang lebih banyak untuk mempelajari nilai-nilai pancasila di sekolah guna menumbuhkan kembali nilai-nilai pancasila pada diri siswa yang semakin memudar.

Pada tataran masyarakat. Masyarakat modern bukan berarti bisa hidup sendiri dan harus meninggalkan sifat religius serta terlepas dari masyarakat umum. Masyarakat modern juga dapat terus mempertahankan budaya musyawarah, kerjasama dan kereligiusan. Sebagai anggota masyarakat harus sadar untuk meluangkan waktu guna bermasyarakat dan bersosialisasi. Hal ini penting dalam upaya mengamalkan dan mempertahankan nilai-nilai luhur pancasila yang ada dalam masyarakat.

Pada tataran pemerintahan. Pemerintah dengan gamblang dan terbuka dapat memberikan contoh implementasi dari nilai-nilai pancasila. Adil dalam memperlakukan rakyatnya. Bijaksana dalam mengambil keputusan dan lebih mementingkan kepentingan rakyat dari pada kepentingan sendiri atau golongan. Dan banyak contoh-contoh lain dari pemerintah yang dapat dijadikan wahana untuk menanamkan nilai pancasila bagi masyarakat indonesia. Bukan tanpa dasar, realita di masyarakat, apa yang  dilakukan pemerintah menjadi contoh prilaku masyarakatnya. Jika minim contoh yang baik dari pemerintah, dapat berdampak buruk bagi prilaku masyarakatnya.

Pada tataran keluarga. Perlu adanya pelibatan keluarga dalam mendidik dan menerapkan nilai-nilai pancasila kepada anak dan anggota keluarga lainya. Keluarga merupakan masyarakat terkecil pembentuk masyarakat yang lebih luas yaitu Negara. Anggota keluarga melalui kepala keluarga memberikan contoh dan mengkoordinasikan anggotanya untuk selalu senantiasa beribadah, adil, musyawarah mufakat dan hal-hal lain hingga menjadi kebiasaan. Jika dalam keluarga sudah terwujud dan tertanam nilai-nilai pancasila, maka dimungkinkan akan membentuk negara yang baik, yang secara konsisten masyarakatnya menjaga dan mengamalkan nilai-nilai pancaslia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here