Judul Riset

348

Sebagai akademisi judul riset adalah pertaruhan dan reputasi. Kita yang menganggap sepele judul riset bisa saja tidak terbiasa terhadap adaptasi pengetahuan baru. Metodologi penelitian, kebaruan gagasan, dan bagaimana fenomena sebuah persoalan sampai pada melanjutkannya ke tahap pengabdian masyarakat untuk perubahan sosial. Banyak sarjana sains menyepelekan para sarjana sosial karena hanya berkutat mereproduksi ulang gejala-gejala sosial. Sarjana sosial dianggap tak memiliki peran dalam menemukan penemuan-penemuan baru bagi teknologi.

Saya tidak menjawab sepenuhnya benar dan sepenuhnya salah. Memang demikian terjadi misalnya, adanya pada sekolah-sekolah keagamaan. Tapi juga perlu diingat segala penemuan baru butuh ruang sosial. Penemuan aplikasi Gojek misal butuh medan lapangan sosial untuk menguji aplikasi tersebut dapat diterapkan atau tidak. Penemuan eco-techno misalnya butuh pasar sosial untuk menguji efisiensi dan efektifitas penggunaan teknologi tersebut. Tanpa ilmu-ilmu sosial, penemuan teknologi hanya akan berdiam di laboraturium.

Sialnya saya mendapati judul riset mahasiswa hanya sekedar menggugurkan persoalan pengajuan skripsi untuk gelar sarjana. Padahal riset bisa kita petakan, untuk melihat lebih jauh, progress gerakan sosial, roadmap pengabdian, dan tentu sejauh mana perubahan sosial yang dapat dicapai. Riset yang menjenuhkan adalah mengulang dan mengulang persoalan, atau memindahlan masalah di tempat satu ke tempat lainnya. Padahal dengan riset sosial, kita bisa masuk ke komunitas sosial sekaligus mendayagunakan pendekatan etnografi atau bisa juga action research.

Sederhananya begini, jika melihat masalah anda hanya meneliti untuk skripsi, anda tidak ubahnya seperti intelektual salon. Berbusa-busa, berteori-teori, dan melanggengkan posisi intelektual yang berjarak. Tapi jika anda ikut hadir, terlibat di dalamnya (etnografi), membangun peta perubahan, bahkan meningkatkannya menjadi progress pengabdian masyarakat maka anda adalah intelektual organik. Intelektual yang berjuang untuk mengubah keadaan sosial.

Sebagai kajur ekonomi Syariah IAIN Metro, saya hati-hati memberi masukan judul. Bahkan saya bertanya dimana rumah mahasiswa (memetakan kemungkinan tidak jika dia mengerjakan skripsi dengan lokasi penelitian, harapannya jarak lokasi terjangkau). Apa modal pengalaman dia mau meneliti tempat tersebut? (pernah KKN di sana, ada komunitas yang dikembangkannya, fenomena di masyarakat sekitarnya dan alasan lainya).

Jika saya sudah memberi masukan arah roadmap penelitian, bahkan saya bangun dengan konsep kolaborasi ke depan. Riset dosen dan mahasiswa dapat diintegrasi dan dilanjutkan dengan project perubahan sosial. Maka sarjana sosial tidak akan menjadi menara gading. Misal dalam proses pengembangan Payungi (Pasar Yosomulyo Pelangi), saya ingin memberi perspektif eco-feminisme, bagaimana saya akan melihat gerakan ekonomi dan ekologi para ibu-ibu pedagang. Riset dan pengabdian ini dilakukan secara simultan, dan usaha perubahan sosialnya dapat dilakukan secara terstruktur.

Namun yang saya kecewa, akhirnya mahasiswa ini tidak jadi bimbingan saya, lalu bagaimana dosen lain akan membimbing, jika peta jalan riset dan pengabdian bukan dosen yang menginisiai sejak awal, apalagi dosen yang membimbing bahkan melenceng dari keilmuannya. Maka, tuduhan perguruan tinggi akan menjadi menara gading mungkin akan terus bersemayam, karena kebijakan judul riset hanya soal menggugurkan rutinitas asal kelar skripsi. Dosen bersangkutan tidak memahami kajian keilmuan, dan dibiarkan membimbing oleh kebijakan fakultas dengan dalih pemerataan.

Dharma Setyawan.
Kaprodi S-1 Ekonomi Syariah IAIN Metro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here