Antara Esensi dan Eksistensi

268

Penulis : Achayani Subadi (Dosen UM Metro)

Sejatinya dalam diri manusia terdapat dua aspek penting yang saling menguatkan bila disadari dan diperhatikan secara baik, yaitu esensi dan eksistensi. Esensi terkait makna, tujuan, dan hakikat yang melekat dalam segala aktivitas manusia untuk mengada (bereksistensi). Faktanya, kedua bagian tersebut terkadang berjalan secara parsial dan tidak harmonis. Seringkali penampilan kasar “sang” eksistensi meninggalkan penampilan halus esensi. Hal ini bisa dipahami karena manusia dalam upaya mengada sangat dipengaruhi keinginan dan ambisi sehingga melupakan hakikat sebenarnya dari upayanya membangun eksistesinta tersebut.

Dalam masyarakat yang dimabuk kekuasaan: jabatan, pengakuan, upaya pecitraan diri menjadi begitu penting. Melalui pecitraan diri, seseorang ingin dianggap lebih hebat daripada keadaan sebenarnya oleh orang lain. Meminjam istilah mas Samsun Fajar, orang yang suka pecitraan itu ” Less essenstial, more symbolic”.  Kebanyakan pecintraan dan Kekurangan pemikiran.Waktunya pun tersita untuk aktivitas simbolik dan supervisial, tidak hakiki dan esensial. Setiap saat disibukan merekayasa semua hal hanya agar dirinya terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya. Apa pun dilakukan demi mendapat pengakuan sebagai orang yang eksis. Di jaman internet dan teknologi komputer yang canggih sekarang ini, perilaku pecitraan semakin “menjadi-jadi”. Fasilitas Search Engine dan  Coppy Paste menjadi bagian penting kesuksesan seseorang dalam pecitraan dirinya. Keduanya mendukung upaya pecitraan seseorang semakin berkualitas dan massif.

Fenomena tersebut umumnya terjadi pada politikus atau seseorang yang sedang berkampanye untuk jabatan tertentu dan hal itu dianggap wajar,  lumrah. Faktanya, tidak sedikit upaya pecitraan juga tejadi di dunia akademik seperti kasus plagiasi da  jocky. Plagiasi yang terjadi umumnya mengaku gagasan-gagasan orang lain lalu dirangkai atau diparafrase sedemikian rupa sehingga seolah itu gagasan dirinya dan ditulis menjadi buku, artikel, atau bagian dari proposan dan laporan penelitiannya. Di jaman rezim scopus saat ini pun terjadi “proyek” penulis bayangan. Banyak nama yang tercantum sebagai penulis dalam sebuah artikel hanyalah sekedar nama tanpa karya, karena tulisan  itu dibuatkan dan diupayakan dapat publish di sebuah jurnal bergengsi oleh orang lain yang sering disebut brocker atau makelar scopus. Semua hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa eksistensi lebih dipentingkan daripada esensi.

Jika dalam dunia politik dikenal istilah: Demokrasi Prosedural dan Demokrasi Substansial. Meskipun agak berbeda konteks,  dalam dunia akademik pun sepertinya tidak salah jika menyebut ada Profesor Prosedural dan Profesor Substansial. Secara prosedur sama-sama terpenuhi, tapi nir esensi. Kesimpulannya; dunia politik dan akademik sama, suka ngakali prosedur. Dan,  lebih ironis lagi hal itu pernah terjadi pada tokoh-tokoh “suci” agamawan yang salalu menanamkan  konsep ihklas, lilahi ta’ala. dan tidak boleh riya tapi justru ingin mendapatkan jabatan atau gelar akademik tertentu dengan mengabaikan  substansi.

Praktik-praktik keagamaan yang ada dan tidak sesuai dengan yang seharusnya, umumnya dikarenakan adanya ketidaksesuaian antara syariat dan hakikat. Kita sering kali menemukan keberagamaan seseorang yang melakukan peribadatan tanpa tahu maknanya. Kita pun sering menyaksikan orang atau kelompok berdebat habat bahkan sampai bermusuhan karena ada tata cara peribadatan yang berbeda. Pemahamannya hanya sampai syariat sehingga jiwa atau mutiara (hakikat) dari sebuah praktik keagamaan terlepas, akibatnya peribadatan yang dilakukan hanya berhenti pada ritual fisik semata. Seringkali orang yang beragama hanya sampai syariat seringkali memebenturkan hal-hal yang tidak prinsip, sibuk dengan kulit tapi lupa bahwa di dalam kulit ada kandungan biji yang bernilai tinggi.

Lebih mudah lagi menemukan fenomena ini bila terkait jabatan. Kita dengan mudah menemukan orang yang lebih bernapsu mendapatkan jabatan dan tidak pandai memantaskan diri, apakah dirinya layak pada jabatan tersebaut atau tidak. Berbagai manuver pun dilakukannya untuk mendapatkan jabatan itu dengan cara apapun, baik cara-cara kotor seperti memanipulasi data, persyaratan, dan lain-lain. Semuanya dilakukan atas nama eksistensi diri, yang penting bisa menunjukkan bahwa dirinya bisa memiliki jabatan, meskipun di kemudian hari banyak orang mencibirnya karena ternyata banyak   job description yang menjadi beban tugasnya terabaikan. Mirip fenomena kerang tanpa kandungan mutiara di dalamnya. Menyedihkan.

Dalam mengelola alam pun manusia sudah kehilangan esensi kesemestaan di alam. Manusia sekarang sudah dirasuki roh antrophocentisme yang sangat parah. Seolah alam ini hanya berisi manusia dan hanya manusia yang berhak eksis di dalamnnya. Padahal manusia tanpa tumbuhan bisa apa? Alam ini tanpa insekta semua siklus kehidupan yang terkait langsung dengan kepentingan manusia akan terhenti. Bumi tanpa mikroorganisme pengurai akan membuat manusia  menderita karena harus hidup berdampingan dengan bangkai-bangkai pelbagai jenis mahkluk hidup yang gagal terurai menjadi tanah. Sadarlah, bahwa maunusia hanya salah satu mata rantai kehidupan yang rapuh di alam ini. Manusia wajib menjaga keutuhan semua mahkluk hidup dan siklus ekologi di alam ini agar manusia tidak susah, bahkan musnah, dan dapat hidup secara harmonis sebagai bagian integral dari alam. Dan, itu lah ecocentrisme, yang mengingatkan manusia: jika ingin eksis jangan melupakan esensi dari nilai-nilai kesemestaan.

 

1 KOMENTAR

  1. Jika ingin tetap eksis di muka bumi maka Esensi dan Eksistensi harus dijalani apalagi di era melenial ini, membuat orang percaya itu sulit, yang mudah adalah menghancurkannya, yang sulit adalah menjaganya. Semua kepala memiliki keinginan dan pemikiran berbeda, bahkan hawa nafsupun diikuti untuk mengejar Esensi dan Eksistensi. Pada prinsipnya secara pribadi tujuan hidup untuk beribadah dan berusaha hidup tanpa dosa. Semua kembali ke individu masing-masing untuk apa dia hidup apakajh hanya untuk Esensi dan Eksistensi saja?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here