STM dan Ekonomi Biru

41

Pendidikan pola STM atau SMK digadang-gadang akan membangun lulusan siap kerja. Iya betul, dan banyak mereka juga terserap ke industri atau kerja di perusahaan luar negeri. Menjadi tenaga-tenaga terampil pemberi keuntungan ecosystem teknologi otomotif. Dulu saya minder tidak tahu soal mesin motor dan mobil saat kawan-kawan memilih sekolah di STM.

Melihat anak-anak STM tawuran di jalanan itu dulu saya lihat keren sekali. Namun hari ini kita sama-sama refleksi, tanpa nilai-nilai lokal, mereka akan dicetak menjadi martir untuk siap meledak kapan saja. Frustasi sosial, kekerasan, kemiskinan struktur, kurikulum yang menghilangkan kebudayaan lokal, yang berinti pada lulusan siap kerja nir pemikir.

Meskipun tidak bisa dikatakan gagal, STM pernah dirancang Habibie menuju manusia ImTaq dan Imtek. Ilmuan yang bertaqwa dan ilmuan yang berteknologi. Berhati Mekkah, berpikiran Jerman. Tapi saya tidak akan bicara soal itu. SMK atau STM direalitas adalah anak-anak nakal kreatif yang lebih banyak belajar otak-atik motor di luar sekolah. Pergaulan mereka adalah pembelajaran itu sendiri.

Omongan saru, main musik, rokok dan minuman keras adalah bumbu jalanan. Bohong kalau Guru tidak melihat itu. Lalu apa yang harus dilakulan, kemarin sore saya ngobrol dengan anak-anak SMK holtikultura dan tanamam pangan dari SMK Sekampung Lampung Timur. Ya dengan gaya bahasa mereka kita bisa melihat mereka ini butuh pendamping-pendamping kreatif.

Sampai januari nanti mereka PPL di Kampung Lebah dan Organik. Kita memang perlu membentuk pendidikam transformatif untuk menguji dan mendidik mereka dengan santuy. Elroy Sihombing Lumbantoruan menjadi guru mereka banyak hal. Belajar pertanian organik, membuat pupuk, pestisida organik, menanam sayuran dan mengembangkan bahan baku alami untuk tumbuhan.

Istilah “ekonomi biru” pertama kali disebutkan oleh Gunter Pauli sebagai Green 2.0 atau ekonomi hijau yang disempurnakan. Dalam hal ini, ekonomi biru mengacu pada sejumlah poin penting, antara lain efisiensi sumber daya, pemanfaatan secara berjenjang, pemanfaatan limbah, hingga penggunaan inovasi untuk pemanfaatan sumber daya dan limbah.

Dalam industri otomotif politisasi mobil Esemka sejatinya adalah contoh kreatifitas anak-anak yang dianggap brutal di jalanan. Namun arah substansinya tidak dibincangkan. Apakah inovasi ini juga menimbanh pemanfaatan sumber daya alam lokal dan mendayagunakan limbah. Ekonomi biru dalam kasus Esemka ini tentu menimbang sebuah konsep ekonomi berkelanjutan dan efisiensi sumber daya alam.

Anak-anak STM atau SMK ini harus juga diajak berpikir ideologis, menanamkan ke dalam jiwa mereka tentang sumber daya alam kita yang sejak dulu dikeruk oleh para elit asing dan elit lokal. Negara yang milih bertempur, memusuhi, menghardik dan menstigma mereka sebagai pengacau ruang publik menandakan kita tidak punya roadmap mau apakan anak-anak kreatif ini di masa depan. Maksimal hanya menyerahkan mereka pada industri kapitalisme dan semakin merusak.

Saya kok membayangkan Film-film Watchdoc karya Mas Dandhy Dwi Laksono itu baiknya diputar di sekolah-sekolah STM atau SMK. Untuk apa? Mereka butuh hiburan. Mereka menonton sambil diajak mikir bangsa kita beraneka ragam dan punya kearifan lokal ekonomi mau dibawa kemana. Mereka diajak berpikir lokalitas sebagai bagian pendidikan transformatif. Sampai januari nanti anak-anak SMK Sekampung akan kami ajak nonton film, kelas digital dan tentu yang pokok pertanian organik di Kampung Organik dan Lebah. Sejatinya, kita tidak cukup hanya komentar di facebook dan whatsapp. Negara ini butuh para penggerak!

Dharma Setyawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here