Semester ini saya diminta mengajar di Universitas Muhammadiyah Metro mata kuliah Entrepreneurship. Sebenarnya mata kuliah ini jika melihat kembali visi kampus tempat saya mengabdi yaitu di IAIN Metro, kata preneurship adalah ecosystem yang terpadu. Sederhananya ya mengembalikan lagi mata rantai nilai atau sumber daya energi ini ke dalam system masyarakat.

Contohnya kita tidak rela energi di sekitar kita terbuang percuma. Matahari, daun-daun, kotoran ternak, air, tanah dan lainnya. Mata kuliah enterpreneurship banyak disederhanakan ke persoalan kewirausahaan, dan wajar karena itu adalah cara praktis dalam praktik di lapangan.

Jika kita ingin membahas secara teoritis, baiknya masuk ke mahasiswa semester VI menemani mereka berfilosofi sambil mencari ide pengembangan penelitian skripsi. Mengajak mereka untuk lebih dalam membaca gagasan-gagasan ecofeminisme, eco-campus, dan lainnya.

12 pertemuan tentu juga sangat pendek untuk menjelaskan bagaimana mata rantai nilai ini sangat berkait-kelindan dengan perjuangan ekologis. Ecosystem yang terpadu sebagaimana Ahmad Mahmudi (2019) jelaskan, bukan sekedar bicara kepentingan ekonomi bahkan antroposentrisme (kepentingan manusia). Preneurship juga menimbang bagaimana alam khususnya hewan dan tumbuhan punya hak yang sama dengan manusia.

Mikir lebih dalam, kok saya takut nanti malah dianggap ndakik-ndakik di depan mereka. Tapi saya memang sudah mulai mengembangkan ecosystem itu, ada pertanian organik, kolam ikan, pupuk organik, lebah trigona dan sebuah ruang untuk anak-anak prodi S-1 Ekonomi Syariah yang saya pimpin akan tumbuh dengan praktik sosial. Pupuk organik bahkan minggu kemarin terjual 40 kantong di gelaran Payungi.

Mahasiswa UM Metro ini akhirnya saya tawarkan dagang jajanan yang belum pernah ada di Payungi dan berusaha menjaga ruang ekologis di Payungi. Pelan-pelan saya tanamkan jiwa keberanian berdagang dengan cara rame-rame. Dua kali gelaran alhamdulillah habis terjual, mungkin karena september Payungi juga sangat signifikan jumlah pengunjung. Tapi menurut saya mereka juga kreatif dalam menawarkan dagangan. Minggu ke dua ini saya tekankan memakai media sosial yaitu instagram dengan konten melalui desain grafis dan video. Tantangan selanjutnya minggu ke 3 nanti yaitu menulis berita tentang kegiatan mereka. Saya yakin mereka akan semakin militan, jumlah mereka hanya 23 mahasiswa, namun jumlah tersebut lebih efektif. Mereka yang jumlahnya banyak belum tentu progresif, tapi mereka yang sedikit dan mendapatkan pendampingan dengan baik, pasti militansi akan terus terbangun.

Dharma Setyawan
Penggerak Payungi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here