Penulis: Wahyu Puji

“Nanti saja atuh neng turunnya, masih di depan sono lagi, cantik-cantik jangan jalan sendirian. Bahaya. Sekalian mamang carikan angkot arah Rambutan”

“Oh iya, mang”

Ini adalah kali pertama saya ke Bekasi dan akan ke Jakarta Pusat seorang diri. Saya belum terlalu paham, namun sebisa mungkin tekun mendengar arahan-arahan dari orang-orang atau sopir-sopir yang saya tanyakan mengenai angkutan umum yang bisa membawa saya ke tempat tujuan.

Meski sebenarnya saya juga masih bingung dan sedikit takut. Sebelumnya, ketakutan saya ini hanya meliputi keresahan jika nanti mabuk di angkutan umum, urusan satu ini memang sulit sekali diprediksi, bisa tetiba terjadi, bisa juga tidak.

Akan tetapi, kegelisahan saya tentang ‘bagaimana nanti kalau mabuk’ malah pecah, kepala terasa lebih dahulu ngilu sebelum naik bus, tentu ini bukan mabuk, ini terjadi ketika mendengar sopir angkot mengatakan hal yang membuat saya kembali bertanya pada diri. Ah, benarkah ruang publik masih saja belum aman untuk perempuan?

Belum juga rampung mencari jawabnya, pertanyaan tersebut bak mendapat hidayah tepat ketika saya telah sampai pinggiran terminal. Saat itu, saya berjalan ke arah pos tiket transjakarta, di sepanjang arah saya berjalan, saya banyak menjumpai pedagang kaki lima yang di sekitarnya juga terlihat beberapa lelaki dewasa mangkal.

Selangkah, dua langkah. Saya masih merasa aman dan berdikari. Namun, urung langkah kaki yang ketiga ini menapak tanah, saya medengar salah seorang lelaki dewasa diantara mereka memainkan siul memanggil-manggil menyaingi berisiknya suara bajaj.

“(Siul).. Sendirian aja mau kemana neng, abang temenin sini neng”.

“Neng.. neng…wuih tahi lalatnya”

Opose, mang! Raiso meneng!.
(Ngapa sih, mang! Nggak bisa diam!)

Melihat wajahnya yang kaget, saya berharap mereka mengetahui kekesalan saya dan tidak melanjutkan perlakuan yang sangat menjijikan itu. Malah sebaliknya, Ia beserta teman-temannya melempar cekikian kearah saya. Jhingan tenan!!!

Jelas saja, fikir saya. Keberadaan laki-laki yang melulu melihat perempuan sebagai objek pemuas seksual, ditambah budaya patriarkis yang permisif terhadap perbuatan ini, membuat ruang dan transportasi publik menjadi tidak ramah sekaligus tidak aman bagi perempuan.

Ironis, memang. Tetapi ya betul adanya. Dimanapun, di ruang privat, ruang publik, dimana-mana, ruang aman bagi perempuan hanya serupa dongeng belaka. Sulit sekali ditemukan.

Saya percaya, hal ini tak hanya dialami oleh saya. Banyak perempuan di luar sana, pasti mereka pernah mengalami perlakuan senada. Sialnya, pelecehan seperti ini masih dianggap wajar atau memang malah dianggap sebagai ‘bukan’ pelecehan?.

Pernah, saya mendengar seseorang yang manasehati bahwa untuk menghindari pelecehan seksual di jalan, jangan berjalan sendiri atau cari dan ajaklah teman lelaki, niscaya tidak akan ada lelaki yang menggoda.

Lah, apakah perempuan tidak berhak untuk berjalan sendiri dan menikmati ruang publik yang sesungguhnya sudah menjadi miliknya juga sejak lahir? Jika hanya melarang perempuan berjalan sendiri, lantas apa alasan laki-laki bisa melakukan catcall? Catcalling isn’t funny. It doesn’t matter who you are.

Sebelum menyalahkan perempuan yang berjalan sendiri atau karena bentuk pakaiannya, kenapa tidak bertanya mengapa laki-laki boleh menggoda perempuan? Can catcaller please stop behaving like garbage. Is it that some lack empathy and common decency. Kwani utakufa if you stop ogling and catcalling ladies.

Belum lagi pernah adanya sebuah tulisan kontraversial yang dimuat disalah satu media jurnalis belum lama ini, saya lupa siapa penulisnya, tapi ia adalah seorang lelaki, ia menuliskan kurang lebih;

“Kau harus paham bahwa banyak pula pelaku catcalling [..] bermaksud memuji [..] orang yang disuit-suitnya”

Aduh, gini. Harus banget ya memuji dengan bersiul-siul? Saya juga pernah memuji seorang lelaki yang saya temui di kampus karena memang harum parfumnya yang unik tetapi tidak dengan, ‘Hai, ganteng, kate nandi, cek harumnya seh!’ sembari suit-suit nggak jelas. Bukankah ada cara lain untuk memuji yang tidak mengganggu kenyamanan orang lain ?

Baik, apalagi? Masih ada yang ingin mengelak bahwa catcall hanyalah sebuah usaha menjalin komunikasi sebagaimana buaya syariah melempar salam dan sapa ketika ada perempuan lewat di jalan?

‘Assalamualaikum, ukhti’

Oke, sila jawab sekenanya saja atau terserah bagaimana kamu ingin kemaki dan melawan, bila perlu pisuhi sekalian jika semakin sering dan keterlaluan. Jika merasa tidak nyaman, jangan hanya didiamkan lalu memilih berjalan lebih jauh dari jalan utama demi tidak melewati orang-orang macam ini, tuman. Apalagi malah menyalahkan diri karena berjalan sendiri atau gegara bentuk pakaian yang melekat sebagaimana banyak orang menyalahkan. Jangan.

Ya, pada akhirnya saya juga sadar. Bahwa melawan catcall tidak semudah dengan hanya memaki. Terlebih jika pelaku merasa tidak terima dan melakukan serangan balik. Akan tetapi dengan tulisan ini, saya mencoba menyampaikan dan mengingatkan bahwa catcall terlalu jahat jika hanya diumpamakan sebagai sebuah ‘keisengan’. Dan perlu kiranya, kemanapun kita berjalan, kita siap dan berani. Dan tidak lupa, selalu membawa alat jaga diri. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here