Seorang Perempuan yang Perempuan

    27

    Belakangan ini, di usia yang saya pahami masih sebagai remaja, saya merasa banyak dirundung oleh pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana menjadi perempuan yang perempuan.

    Bukan tanpa alasan, dewasa ini, pelbagai video-video tutorial skinkeran dan dandan -dari cara berdandan untuk acara formal, ootd, kuliah, sampai cuma rebahan di kasur saja- telah menguasai jagat media online -paling tidak- di setiap timeline di sosmed saya.

    Demi apa, kanal kecantikan yang direpresentasikan melalui bentuk tubuh (tinggi-kurus-langsing) dan tekstur kulit (mulus, putih) lengkap dengan review-review produknya kini makin merajalela. Sialnya, hal tersebut seperti telah menjadi kiblat standar keperempuanan. Seolah untuk mau apatis, bisa-bisa keperempuananmu dipertanyakan dan menjadi tidak terkesan. Hash
    Akan tetapi, benarkah untuk menjadi perempuan yang perempuan harus selalu sempurna dengan polesan di wajahnya? Dan di segala kondisi, tentu, harus menjaga penampilannya agar tetap terlihat feminim, kekinian, dan Marxis eh manis? Atau, perempuan bisa dikatakan perempuan jika sudah mampu mengenal seluruh produk kecantikan beserta nutrisi-nutrisi yang terkandung di dalamnya sebagai komposisi paling epic dalam peremajaan kulit ?

    Menjadi perempuan. Menjadi perempuan berarti kamu harus bisa dandan, harus bisa menjaga penampilan, harus bisa pakai ini, ini, dan ini. Menjadi perempuan, berarti kamu harus hafal ramuan kecantikan, kamu harus putih, kamu harus langsing, kamu harus ayu, kamu harus —Sepertinya cukup saya menuliskan daftar ‘menjadi perempuan harus’ sampai di sini saja.

    Begitulah kiranya sedikit banyak lontaran ‘keharusan’ yang ditujukan kepada perempuan. Sudah terlalu banyak pihak yang mendikte, termasuk pandangan yang lahir dari keluarga, budaya, bahkan agama yang bisa berbeda-beda. Masing-masing tentu memiliki standarnya sendiri tentang bagaimana cara menjadikan perempuan agar perempuan tanpa mempertimbangkan dampak apa yang bakal diterima oleh perempuan.

    Belum lagi media yang ditunggangi kapitalis yang (mungkin) akan membentuk perempuan menjadi sangat konsumtif demi mencapai nilai-nilai dan standar Juguun Ianfu yang didewakan itu, perlu isi tas lebih untuk memenuhi komposisi wajah dan tekstur kulit yang tak menghabiskan sedikit jumlahnya dan waktu yang tak sebentar hitungannya.

    Saya tidak anti-makeup-makeup club, tentu saja. Bahkan saya tengah gemar mempersolek diri dengan panduan –yang paling sering– di YouTube. Pun, saya juga memiliki teman yang telah saya nobatkan sebagai Dewan Penasehat Skinker. Namun, saya kira, perempuan dapat menikmati setiap makeup, tap-tap skinker, beserta atribut yang dikenakan atas nama mencintai diri sendiri, dan tidak lupa, melakukannya dengan hati yang gembira.

    Saya pribadi percaya, bahwa perempuan bisa menetapkan nilai dan standar cantiknya sendiri untuk tetap bertahan dalam arus konformitas yang membingungkan sekarang ini. Perempuan bisa tetap menjalani kehidupannya dengan standar kecantikan yang ia yakini, tidak ndakik-ndakik laiknya nilai yang ditawarkan dan ditanamkan oleh lingkungan kepada dirinya yang mungkin saja dapat berpotensi negatif terhadap perempuan itu sendiri.
    Meski terlihat muskil ketika perempuan meredefinisi standar kecantikan tersebut. Namun kiranya, kita, perempuan tetap berani. Berani untuk menjadi perempuan yang punya arti lebih luas dari tata rias, yang punya alasan lebih jelas dari aturan yang melintas, yang berani menata diri, hidup, dan hati dengan mengadopsi standar sendiri. Karena kita adalah perempuan yang perempuan, seperti definisi yang kita yakini dan tetapkan.

    Wahyu Puji,
    Belajar menulis sambil skinkeran sebagai bentuk apresiasi dan cinta kepada diri sendiri karena bahagia dilahirkan sebagai perempuan. Oh iya, ngomong-ngomong siapa bilang mempercantik diri hanya untuk membuat orang lain terkesan?.ehee

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here