PEREMPUAN-PEREMPUAN “PERKASA” DALAM FILM BUMI MANUSIA

75

Penulis : Mufliha Wijayanti

Usai menyelasaikan satu pekerjaan, aku membiasakan untuk menghadiahi diri sendiri dengan hal-hal yang membuat ‘bahagia’ sebelum beranjak ke pekerjaan baru. Semacam upah badan, untuk mengambil jeda, menghela nafas untuk start lagi dari nol menuju stage berikutnya. Ini adalah ikhtiar keseimbangan diri, agar tetap bahagia.

Bertepatan dengan hari tujubelasan, aku ingin jeda sejenak. Menikmati 3 jam non-stop visualisasi narasi novel monumental Bumi Manusia karya Paramudya Ananta Toer. Film ini cukup mengaduk-aduk perasaan, saya harus bolak balik menguasai hati antara bangkitnya rasa pilu akan derita sejarah kolonial, terbakarnya nasionalisme, heroiknya sebuah perlawanan, dan nestapa terpisahnya raga yang berbalut cinta yang diselingi alay-alaynya Minke rasa ‘Dilan’. Karena tak berekspektasi apa-apa tentang film ini, sebatas ingin mengerti secara cepat alur novel kontroversial ‘Bumi Manusia’, Film ini bisa dibilang oke dan layak untuk dinikmati. Tentu bagi yang sudah khatam baca novelnya, dan berekspektasi tinggi, visualisasi karya besar Pram mungkin sedikit tereduksi. Karena bukan perkara mudah untuk mengemas novel sarat makna ini, menjadi film yang tentu saja harus mempertimbangkan selera pasar. Tapi, jujur Nyai Ontosoroh yang diperankan Ine Febrianti kerren banget. Kalau Minke, mungkin sedikit agak kedodoran. Tapi bisa jadi karena saya yang belum bisa move on dari karakter Iqbal Ramadhan sebagai Dilan.

Sembari menunggu, aku baca kembali novel lama ‘Perempuan di Titik Nol’ nya Nawal el Sa’dawi, Feminist asal Negeri Nil yang juga seorang dokter. Aku sempat baca beberapa karya Nawal saat menulis skripsi di Jurusan Sastra Asia Barat belasan tahun lalu. Mengulang bacaan-bacaan begini, kulakukan untuk mengasah kembali perspektif gender untuk melihat realitas, secara lebih ringan. Wal hasil masih anget-angetnya merekam penderitaan Firdaus yang sepanjang hidupnya menjadi budak seks, dalam film ini aku pun melihat betapa heroiknya tokoh-tokoh perempuan dalam “Bumi Manusia”.

Nyai ontosoroh dan Annalies Mellema adalah dua tokoh sentral yang memvisualkan agensi perempuan untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan dengan caranya. Nyai Ontosoroh adalah istri simpanan Herman Mellema, saudagar besar berdarah Eropa, yang menjadi pengendali perusahaan pertanian Mellema. Meski Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik, yang pada umumnya diposisikan sebagai budak seks tuannya, namun dalam Bumi Manusia, Ontosoroh dinarasikan sebagai perempuan berkelas, berwawasan, dan memiliki kemandirian. Bersama anaknya, Annelies, ia kendalikan perkebunan dan peternakan besar milik keluarga Mellemma.

Luka, telah ‘dijual’ oleh ayahnya kepada Herman Mellemma tak membuatnya menjadi ‘budak’ tanpa daya. Sadar akan posisi sebagai gundik yang dianggap tidak memiliki norma susila dan perempuan ‘sampah’, Nyai berusaha keras untuk belajar agar diakui sebagai ‘manusia’. Kesadaran awal untuk menjadi manusia yang berdaya. Perlakuan baik dari Mellema, yang telah mengajarkan banyak hal tentang nilai dan tradisi Eropa, tak membuatnya lupa akan nilai-nilai pribumi yang dihayatinya. Nyai ontosoroh tetap menjadi ‘Sanikem’ yang berbalut jarik-kebaya namun memiliki cara berpikir terbuka dan merdeka. Meski sebagai gundik, Nyai Ontosoroh memiliki posisi tawar yang kuat di hadapan ‘tuannya’ Mellema. Pun dengan Annalies, pengalaman pahit menjadi korban insect dari kakaknya Robert Mellema , membuatnya menjadi pribadi yang tampak rapuh, murung, dan sentimental. Itulah, bentuk resistensinya terhadap dominasi ‘kuasa’ anak laki-laki dan anak tertua. Tapi Ann yang manja, menjadi perempuan yang berdaya secara ekonomi, menjadi asisten Nyai Ontosoroh, sebagai mandor perkebunan. Di balik rasa ‘sakit’ dua perempuan ini berjuang dengan caranya.

Di samping mereka, (pilihan kata di samping saya gunakan untuk menyatakan kesetaraan peran antara tokoh laki-laki dan perempuan) ada tokoh utama, Minke yang berjuang dengan kecerdasan dan ketajaman penanya menuliskan ‘perlawanannya’ terhadap penindasan dan ketidakadilan melalui media masa. Sebagai ninggrat Pribumi, putra dari Bupati Bojonegoro, Minke memiliki kecerdasan dan akses pendidikan lebih di banding pribumi lainnya. Setelah gagal silih berganti dalam upaya hukum di ‘Landraad’ Pengadilan zaman Kolonial, untuk mempertahankan hak keperdataan Nyai Ontosoroh dan Annalies, dia berjuang dengan mengangkat ‘pena’ sebagai senjata, dan ‘darah’ menjadi amunisinya. Perjuangan untuk menyuarakan perlawanan terhadap penindasan. Sayangnya, bagian ini tidak tereksplore secara memadai dalam film ini. Bagian perlawanan Minke melalui media dan tulisan, terasa melompat-lompat dan tidak utuh.

Namun, perjuangannya melawan hukum Belanda, harus KALAH. Hukum dibuat oleh Belanda, dipaksaterapkan di Hindia Belanda, dan pribumi menjadi penontonnya, atau bahkan menjadi korbannya. Dalam nalar relasi kuasa, hukum dirancang oleh penguasa, diterapkan dan dikendalikan juga oleh penguasa, untuk mengabadikan kekuasaannya.

Kekalahan Nyai Ontosoroh, karena Ia bukan istri yang sah dari Herman Mellema, maka Annalies yang masih di bawah umur, harus berada dalam pengasuhan dan dikembalikan ke Nederland. Sebagai Indo, maka Ann menjadi warga negara Belanda, mengikuti warga negara ayahnya. Hukum Belanda, tidak mengakui Nyai Ontosoroh sebagai ibu kandungnya, karena bukan dari perkawinan yang sah, meski sungguh-sungguh ia yang melahirkan dan mengasuhnya. Pun, harta benda peninggalan Herman Mellema, Nyai Ontosoroh tidak berhak atasnya. Sementara pernikahan Ann dan Minke yang diakui oleh Pengadilan Penghulu (cikal bakal Pengadilan Agama sekarang), namun ditolak oleh hukum Belanda, bahkan bisa dianggap persekongkolan dalam pemerkosaan karena Ann masih di bawah umur. Heeemmm Berasa ikut kuliah sejarah hukum perdata di Indonesia fase masa kolonial.

Di akhir dialog, saat Ann dengan jumawa mematuhi putusan pengadilan dan siap dikirim ke Nederland dengan koper “pesakitan” Nyai Ontosoroh, dalam keputusasaan Minke berteriak, “Kita sudah kalah, ma!!!!!!”
Tapi Nyai Ontosoroh menjawab dengan tegas dan lantang, “Tidak Sinyo, Kita kalah, tapi kita sudah melawan…….”

Itulah makna perjuangan. Sama seperti perjuanganku untuk menjeda, tapi nyatanya aku hanyut dalam jeda tak berkesudahan. Semoga usai posting tulisan ini, aku bisa mulai dari Nol lagi, seperti isi minyak di Pertamina.

Bumi Manusia, Film adaptasi dari Novel Pramudia Ananta Toer, besutan sutradara Hanung Bramantya, layak dinikmati sebagai karya Indonesia. Merdeka!!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here