Untuk Bumi Manusia

111

Penulis: Ahmad Fathul Huda
Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, asal Lampung.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Apa yang kalian rasakan saat membaca kutipan di atas? Mungkin sama sepertiku ada batin yang terasa bergejolak, entah itu besar atau kecil pasti kalian juga merasakanya bukan? Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seoarang penulis yang saya kagumi, melalui buah pemikiranya yang matang perihal kehidupan, ia sudah tuangkan dalam karya-karyanya seperti Novel Bumi Manusia yang telah diterjemahkan kedalam 33 bahasa, dan Pram sendiri sebagai penulis sudah banyak menerima penghargaan nobel sastra. Apresiasi luar biasa yang diberikan bangsa asing karya inspiratif yang mengenalkan kepada dunia bagaimana bangsa Indonesia sebenarnya. Seri novel selanjutnya yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Yang lebih kita kenal sebagai Tertralogi Pulau Buruh.

Kekaguman saya mencuat dalam novel Bumi Manusia, pada beberapa karakter yang bukan hanya pada Minke si tokoh utama, tapi juga pada Nyai Ontosoroh dan Juffrouw Magda Peters. Nyai Ontosoroh merupakan sosok berkarakter yang berjuang melawan Patriarki. Perempuan pribumi pada jaman kolonial saat itu dipandang sebelah mata dan sekedar sebagai objek. Apalagi posisinya sebagai gundik, istri simpanan Herman Mellema, yang dilekati stereotype sebagai perempuan tak berharga yang hanya mampu menampilkan keerotisan. Label gundik ini disematkan pada Ontosoroh sejak usianya 14 tahun, saat Ayah kandungnya sang juru tulis di Pabrik Gula Tulangan, Sidoarjo, menjual Sanikem alias Nyai Ontosoroh demi sebuah jabatan. Namun Nyai Ontososroh sendiri adalah sosok wanita kuat yang berwawasan luas, mampu berbahasa Belanda, berdiri tegap seperti Perempuan Belanda. Bahkan ia mampu mengelola perusahaan Pertanian Buitenzorg, milik Mellema. Di Negeri yang patriarkis ini, Nyai Ontosoroh layak dijadikan tokoh yang dikagumi.

“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai.” – Nyai Ontosoroh. Bumi Manusia
Juffrouw Magda Peters, merupakan guru Sastra Belanda di H.B.S. dia sendiri memiliki paham liberal yang menentang segala bentuk kolonialisme. Dia begitu bangga mempunyai murid seperti Minke yang cerdas, mampu berbahasa Belanda dengan fasih dan juga gemar menulis. Tentunya ini yang membuat Magda Peters merasa berhasil menjadi seorang guru. Yang membuat saya kagum pada sosok ini saat dia berdialog dalam forum diskusi dengan para murid H.B.S. yang kira-kira seperti ini bunyinya.
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja , tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan pandai” – Magda Peters, Bumi Manusia.

Kalimat buah pemikiran Pram yang ditulis dalam bukunya dan dituangkan dalam ucapan tokoh Juffrouw Magda Peters sanggat mengetarkan batin saya, bagaimana tidak, sebab saya sendiri pun perlahan-lahan suka akan Sastra. Dari sini cukup mengukuhkan diri saya untuk menjadi seorang penulis sekaligus pengarang. walaupun yang saya bisa tulis saat ini sekedar deretan kata-kata berupa roman dan elegi. (cek Instagarm @AFH_HUDA untuk melihat tulisan) Dalam pikiran saya kalimat itu selalu terngiang-ngiang, sampai merujuk pada buah pikir bagaimana lemahnya pendidikan sastra di Indonesia, di mana kala SD sampai SMA, kita hanya diajarkan bagaimana mereseni buku, membuat pantun dan puisi, menyebutkan judul, merangkai sinopsis dan ujung dari itu semua adalah menghapal. Tapi sadarkah kita jika saat ini kita masih belum menikmati sastra? Sedangkan di luar sana karya Pram yang satu ini sudah menjadi objek kajian sastra, kata Mr.Max Lane salah seorang penerjemah buku Bumi Manusia dari USA yang saya temui di acara Patjar Merah, Yogyakarta. Sampai seorang penulis senior bernama Goenawan Muhamad pernah menyatakan bahwa sastra di Indonesia tidak berkembang dan kini kritik sastra telah mati. Dan jika kalian bertanya lantas bagaimana cara menikmati sastra? Saya tidak bisa menjawab karena belum pernah diajarkan di sekolah bagaimana cara yang benar untuk menikmati sastra.

Lalu kini, karya besar Pram hadir diadaptasi dalam bentuk film Bumi Manusia. Film yang digarap oleh Hanung Bramantyo ini cukup membuat saya gemetar sesaat, bertanya-tanya akankah Film Bumi Manusia mengalami banyak reduksi alur cerita? Akankah bagus? Dan pertanyaan lain sebagainya. lalu sampai di detik di mana saya mulai menonton hadir sebuah jawaban, bahwa film Bumi Manusia adalah film adaptasi Novel terbaik yang pernah saya tonton. Bukan perkara mudah untuk mengaudiovisualkan sebuah karya besar seperti Bumi Manusia. Sebuah amanah besar juga mungkin bagi sutradara seperti Hanung untuk menjaga alur dan ekspstasi pasar.

Seluruh Cast Bumi Manusia berperan luar biasa, seperti Iqbal (Minke), Mawar Eva (Annelis) dan Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh) cukup banyak memberi tebar pesona kekaguman pada setiap aktingnya. Walaupun saya sendiri merasa sedikit kurang dengan peran Iqbal sebagai Minke yang masih terasa lekat dengan sosok Dilan-nya. Tapi Iqbal adalah aktor muda yang cerdas. Menjadikan Bumi Manusia dalam sajian film yang bisa dinikmati untuk mengenalkan siapa itu Pramoedya Ananta Toer dan karyanya kepada generasi Z. Adegan favorit saya adalah saat Minke melawan hukum Eropa dengan cara menulis, bagaimana tulisan mampu menggerakhan hati baginsiapa saja yang membaca. Adegan terakhir yang telah mengombang-ambingkan perasaan saya, saat Annelis harus berpisah dengan Minke untuk pergi ke Nederland menerima keputusan pengadilan Eropa yang bisa dibilang sebuah pennidasan atas siapa yang lemah dan kepada siap memihak.

“Kita sudah kalah, ma!!!” ucap Minke yang saat itu dirundung kesedihan dan penyesalan. Dengan tegar Nyai Ontosoroh manjawab, “Tidak Sinyo, kita kalah, kita sudah melawan.” – dan dalam versi bukunya, “Kita telah melawan Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here