Semar Mbangun Kayangan

13

Lakon Semar Mbangun Khayangan itu awalnya menceritakan Semar yang juga bernama Kiai Badranaya tidak sowan ke Kerajaan Amarta dalam beberapa kali paseban (pertemuan). Hal itu tentu membuat Pandawa khawatir tentang apa yang sedang terjadi pada Semar. Karena itulah, Pandawa yang terdiri dari Raja Amarta Puntadewa bersama adik – adiknya, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadwa datang ke padepokan Klampis Ireng tempat tinggal Semar. Tujuan mereka ingin mengetahui penyebab Semar absen dalam beberapa kali pisowanan.

Ternyata, dugaan Pandawa betul. Semar sedang galau pikirannya dan prihatin melihat berbagai persoalan di kerajaan Amarta. Arjuna bertanya kepada Semar, apa gerangan yang membuat ia risau dan galau. Semar dengan samar mengatakan bahwa ia sedang prihatin melihat perilaku para pemimpin dan nayaka praja Amarta yang tidak merakyat lagi. Para pejabat keraton mengalami degradasi moral.
Para pemimpin yang seharusnya ngayomi lan ngayemi rakyatnya malah menjauhi dan tidak merakyat. Bahkan, dalam memegang tampuk pemerintahan para pemimpin jauh dari hati nurani. Oleh karena itu, Semar ingin pamit meninggalkan Pandawa jika para satria Pandawa tidak mengubah perilaku mereka . karena perilaku buruk para pemimpin akan memengaruhi para rakyatnya sendiri di Amarta.
Saat mendemgar ucapan Semar tersebut, Puntadewa dan saudaranya sedih dan berjanji akan memperbaiki perilaku mereka dan meminta Semar untuk tidak meninggalkan mereka. Janji itu membuat Semar membatalkan keinginanya pergi dan malah mengajak Pandawa ikut mbagun khayangan.

Ketika mendengar rencana Semar itu, sebenarnya Pandawa bertanya – tanya dan bahkan terkejut. Bagaimana tidak? Mereka tahu kayangan merupakan tempatnya Dewa dan hanya Bethara Guru yang memiliki kewenangan membangun kayangan. Semar menjelaskan bahwa yang akan dibangun itu bukan Khayangan Jongring Saloka, tempatnya para Dewa, melainkan kayangannya jagat kecil atau jiwanya para pemimpin dan para kawula di Kerajaan Amarta. Setelah mendengar wejangan Semar itu. Pandawa merasa lega dan tut wuri dengan langkah yang akan dilakukan semar.
Sebenarnya bukan hanya Pandawa yang tidak mengerti visi mbangun khayangan-nya Semar. Para Dewa pun juga salah memahami pemikiran dan keinginan Semar tersebut. Karena itulah, ada pihak yang terprovokasi dan datang ke Klampis Ireng untuk membunuh Semar sekaligus Pandawa. Mereka yang terprovokasi itu adalah Bethari Durga dan Bethari Kala yang tidak dapat menerima rencana Semar mbangun khayangan itu.
Semar pun sudah tanggap dengan adanya ancaman pada dirinya dan Pandawa. Oleh karena itulah, untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, satria Pandawa minus Werkudara, dimasukkan ke kuncung-nya. Sementara itu, Werkudara bersama putra – putra Pandawa diminta untuk menghadapi sekaligus menggempur para pendukung Bethari Durga.
Tidak lama setelah Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa masuk ke kuncung Semar, datanglah Bethari Durga yang menjelma Prabu Kresna. Cara Durga memba Prabu Kresna dari Kerajaan Dwarawati adalah seorang penasihat ulung Pandawa. Maksud kresna gadungan datang ke Klampis Ireng untuk mencari Pandawa. Dia mengancam kalau tidak mau menunjukkan keberadaaan Pandawa, Semar akan dibunuh.
Saat mendengar ultimatum Kresna gadungan itu, Semar sambil tersenyum mengatakan bahwa saat ini banyak orang berwatak durjana (maling) yang memakai topeng orang bijaksana. Semar kemudian bertanya balik, kalau memang yang datang di Klampis Ireng itu Kresna titising Wisnu, kenapa tidak tahu keberadaaan Pandawa.

Saat mendengar pertanyaan Semar tersebuit, Kresna gadungan babar, kembali berubah wujud aslinya, menjadi Bethari Durga. Karena penyamarannya ketahuan Samar, akhirnya Durga melarikan diri dari Klampis Ireng. Sementara itu, para pengikut Durga yang sudah bersekutu dengan Kurawa, dihalau Werkudara beserta para putra Pandawa, dia antaranya Gatotkaca dan Antareja.
Bethari durga kemudian minta perlindungan kepada Bethara Guru. Dia mengadu bahwa Semar akan mbangun khayangan. Namun, Bethara Guru, yang menjadi tetungguling para dewa, tidak serta-merta percaya dengan rencana Semar tersebut. Batara Guru meminta ke Durga untuk tidak memperkeruh keadaan dan diminta kembali ke tempatnya, Setra Gondomayit. Di sisi lain, Bethara Guru akan menghadap Shang Hyang Wenang di Alang – Alang Kumitir.
Ternyata Semar yang juga memiliki nama Sanghyang Ismaya sudah terlebih dulu menghadap Shang Hyang Wenang. Semar minta piyandel atau pegangan hidup sebagai bekal dalam membangun jiwa para satria Pandawa yang saat ini sedang mengalami degradasi moral.

Shang Hyang Wenang memberikan wejangan ke Semar sebagai berikut. Seorang pemimpin harus memberikan pencerahan yang bijaksana. Pemimpin harus menerima perbedaan atau pluralisme yang ada. Tidak boleh memihak salah satu golongan dan harus bertindak adil kepada rakyatnya. Mengingat Amerta dulu dibangun berdasarkan masyarakat yang plural atau majemuk dan berasal dari berbagai suku, ras, dan agama, segala perbedaan itu sebagai kekuatan dan jati diri dalam membangun amarta.

Setelah selesai memberikan wejangan ke Semar, datanglah Bethara Guru. Kepada Guru, Shang Hyang Wenang mengingatkan bahwa yang dimaksud mbangun khayangan-nya Semar adalah membangun jiwa para pemimpin Amerta. Untuk itu, batara Guru harus ikut membantu apa yang menjadi keprihatinan Semar.

Tancep kayon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here