Keragaman

35

Penulis: Dharma Setyawan

Minggu kemarin Tuhan begitu baik, kami semua diperlihatkan apa itu pelangi. Pagi itu juga kami diberi rintik air tapi belum sampai hujan. Saya berpikir, wah ini kita diminta memaknai payung sebagai tempat berteduh sementara.

Gelaran Payungi membaur cukup penting, untuk menjadi catatan kami. Pada tingkat tertentu kami sangat menghargai keragaman. Bahwa di sebuah gang perkampungan kota, di bawah pohon bambu, kami bergerak bersama dengan bermacam latar belakang, profesi dan skill. Gerakan gotong royong antar komunitas adalah gambaran yang paling urgen.

Kita tentu tidak bisa membayangkan jika sebuah masyarakat memiliki keseragaman. Apakah mungkin akan cepat terjadi perubahan kebudayaan? Bagaimana kalau sebuah tempat isinya ustadz semua? Sebuah kampung isinya petani semua tanpa skill yang lain? Sebuah kampung isinya pegawai Pemerintah semua? Kami yakin, keragaman akan menjadikan semua komponen saling mengisi, memiliki titik temu untuk saling melengkapi.

Disanalah spirit payungi, gambaran pelangi di sebuah perkampungan di Metro Pusat. Pasar dengan omset 50 jutaan pergelaran ini tidak lantas membuat warganya menjadi kaya raya. Tapi kami mulai yakin kami semakin bahagia 8 bulan ini kami mencatat omset 1,5 miliar lebih uang masuk ke RW 07. Payungi bukan spirit mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Warga Bandar Lampung yang datang ke Payungi heran masih ada jajanan tradisional dengan harga 3 ribu-5 ribu.

Payungi harus terus membaur dengan beragam komponen. Pasar Jajanan Tradisional menyediakan banyak wahana bermain yang murah tapi tidak murahan. Payungi menjadi ajang berkumpul para seniman dengan berbagai macam; ada Musisi, Pelukis, Petani Organik, Penggerak Sosial, Pecinta Buku, Penulis, Content Cretaor, dan lainnya. Kami akan terus berusaha memberi yang terbaik untuk warga kota ini. Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) adalah spirit memayungi kreativitas dan membangun keragaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here