Skripsi

Skripsi

Penulis: Ririn Erviana

Garap skripsi itu seperti menanam selederi. Seperti memelihara sapi, kambing atau ayam. Sinung-sinungan. Orang jawa biasa memakai istilah sinung bagi mereka yang berhasil mengurus atau memelihara sesuatu dengan kemajuan yang cepat. Misalnya baru sebentar memelihara kambing atau sapi, sudah beranak-pinak. Hmm benar gak sih gitu analoginya? Ya pokoknya gitu. Setidaknya itu menurut saya.
Garap skripsi bahkan bisa juga dianalogikan main untung-untungan. Lha bagaimana tidak. Kalau dapat Dosen Pembimbing (Dosbim) yang enak yang cuss langsung meluncur, jalan bagai tol cipali tanpa polisi tidur barang satupun. Atau sebenarnya Dosbim enakan atau enggak hanya tentang persepsi dan ekspektasi yang kita bangun sendiri? Hah entahlah. Yang jelas saya memang sedang berada pada fase keblunderan ini.

Waktu semester awal-awal saya bercita-cita ingin wisuda cepat. Meraih IPK tertinggi. Membuat penelitian kuantitatif, supaya analisisnya cepat karena memakai angka. Saya getol membaca buku di perpustakaan, browsing dan bertanya kepada kakak tingkat supaya dapat mewujudkan cita-cita saya. Bahkan saya sampai kesurupan untuk membaca buku panduan skripsi dan skripsi yang tersedia di perpus. Padahal masih semester bawah. Mungkin ada beberapa yang heran. Salah satunya dosen petugas perpus.

“Kamu kan masih semester bawah, kok pinjam buku panduan skripsi?” Kata dosen saya waktu saya menyodorkan buku yang akan saya pinjam. Bapak ini merupakan salah satu dosen pengampu mata kuliah saya.
Saya hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan dan ulasan senyum saja.

Saya juga sangat kekeuh dengan cita-cita penelitian kuantitatif ini. Pokoknya saya berusaha mempelajarinya. Sampai saya menemukan kesulitan membaca rumus-rumus statistik. Ya maklum saja saat itu kan belum menerima mata kuliah statistik.

Kemudian tiba gilirannya semester 5 dan 6 saya menerima mata kuliah statistik. Saya begitu antusias. Karena ini adalah modal utama untuk penelitian yang saya cita-citakan.Tapi ternyata semua berjalan tidak sesuai ekspektasi. Saya justru kecewa pada diri saya yang agak pemalas belajar hitung-hitungan. Karena sedari awal semester tidak pernah balajar hitung-hitungan. Padahal sewaktu Aliyah saya sangat suka Matematika dan Fisika. Ditambah dosen yang mengampu mata kuliah statistik jarang masuk. Itu menambah kadar kemalasan dalam diri saya.

Sampai mata kuliah berakhir saya tetap belum bisa memahami statistik dalam penelitian. Padahal nilai saya A. Soal nilai, mungkin inilah yang dibilang hoki! Lha setiap ada tugas saya selalu nyontek sama kawan. Karena malas ngerjain. Padahal tadinya saya paling anti sama nyontek-nyontek klub.

Hingga tiba saatnya pengajuan judul skripsi. Saya mengajukan dua judul. Satu kuantitatif dan satu kualitatif. Singkat cerita saya tidak dapat memertahankan judul kuantitatif dan malah judul kualitatif yang diterima.
Saat itu sayang bimbang. Benar-benar bimbang. Saya sudah bela-belain belajar dari semester awal untuk penelitian kuantitatif, eh malah yang diterima kualitatif. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing. Saat itu saya berpikiran, judul saya paling unik diantara kawan-kawan. Dan sesulit apapun pasti bisa! Nggak ada alasan!

Sejak saat itu pola pikir saya mulai berbelok arah. Bukan lagi mengejar cepat. Tapi bagaimana saya membuat karya yang terbaik. Karena setelah dikalkulasikan susah untuk lulus sebelun 4 tahun. Jadi buat apa mengejar cepat, mending memaksimalkan karya terakhir di jenjang strata satu ini.

Kini saya harus menerima kenyataan pahit (Tapi ya gak pahit-pahit amat) ketika melihat kawan-kawan seperjuangan yang sudah menyelesaikan skripsinya. Karena pada akhirnya kami (dalam hal ini mereka, dan saya sendiri) memahami bahwa skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai.
Bisa dibilang skripsi saya ini bukan yang terbaik lagi. La gimana wong sampai

sekarang juga belum kelar.
Satu poin penting yang kini saya pahami. Istilah “Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai” itu ya nggak sepenuhnya benar. La terus kapan majunya kalau tolak ukur baik hanya karena selesai. Selesai kan luas maknanya.

Bisa karena memang sudah tuntas penelitian. Bisa karena dipaksa selesai. Bisa karena faktor A BCDEFG dan seterusnya.

Bagaimana sebuah institusi memperbaiki kualitas penelitian mahasiswa kalau tolak ukurnya ‘selesai’ saja. Bagaimana sumbangsih skripsi sebagai naskah terakhir untuk mendapat gelar strata satu terhadap bidang keilmuan yang ditempuh kalau penelitiannya hanya itu-itu saja.

Saya jadi berpikir, ternyata skripsi sebagai karya suci seorang mahasiswa yang ditimang-timang bawa kesana kemari pada akhirnya hanya menumpuk di perpustakaan dan disudut ruangan pembimbing serta jurusan. Bisa nggak sih diakhir masa studi kita melakukan hal yang berkelas. Menunjukkan bahwa ini lo strata satu.
Ya mungkin cuma akunya aja ding yang pemalas. Malah bucin-bucin terus. Bacaannya menye-menye, muter lagu galau, habis itu makan banyak. Lemuuuu!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *