Patah Hati itu Marketable

59

Penulis : Ririn Erviana

Kalau Kim Woo Bin dalam Drama Korea The Heirs (Tahun 2012) melampiaskan segala kekesalan dan patah hatinya dengan pergi Ke Restoran Ayahnya untuk cuci piring. Maka tidak jauh berbeda dengan saya. Hanya saja saya sering melampiaskan kegalauan melalui aktivitas maha anarkis yang melibatkan benda-benda tajam. Semisal pisau, api, dan seperangkat ulekan.
Ya benar. Saya melampiaskan dendam penolakan yang membuat saya terjerembab dalam kebucinan dengan memasak. Sebetulnya memasak memang bukan satu-satunya alternatif yang saya pilih. Masih ada beberapa hal seperti, menulis, jalan-jalan atau curhat sama kawan. Tapi diantara alternatif itu, memasak adalah yang paling simple dan tidak harus melibatkan orang lain. Meskipun menulis juga tidak membutuhkan orang lain, tapi menulis membutuhkan berbagai kosakata, yang tentu saja membuat otak saya harus berpikir. Malah mumet nanti.
Berbeda dengan memasak yang tak perlu banyak menguras otak. Tinggal action saja asalkan bahan-bahan sudah tersedia. Biasanya saya juga memutar lagu galau pilihan saya, seperti Lagunya Fiersa Besari, Dewa 19, dan Lagu-lagu cover-an Hanin Diya. Sungguh sebuah aktivitas kegalauan yang produktif bukan. Dengan sisa-sisa dendam atas pengabaian hati dan perasaan. Saya menumpahkannya dalam bentuk racikan bumbu yang tidak hanya diulek dengan otot melainkan kekuatan perasaan.
Saya jadi mulai menyadari bahwa sebenarnya patah hati akibat fall in love with people I can’t have tidak selamanya merugikan. Karena banyak pilihan untuk melampiaskan rasa patah hati itu, kemudian mengubahnya dalam bentuk karya. Bisa masakan, puisi atau pengalaman.
Ingat, berapa banyak orang-orang sukses di dunia ini yang kehidupannya sering dilanda patah hati. Siapa yang tak kenal Raditya Dika, yang menulis berbagai pengalaman pribadinya (termasuk patah hati), hingga bukunya banyak yang best seller.
Boy Candra juga sama, buku-bukunya berisi romantika patah hati yang tak henti digandrungi oleh mereka yang merasa bernasib sama.
Sampai di sini dapat kita pahami bahwa romantika hidup yang terjal memang lebih mengandung nilai ekonomi dan marketable. Pasalnya orang-orang di luar sana merasa senasib sepenanggungan ketika membaca kisah yang mirip dengan kisahnya. Mereka tidak merasa jadi manusia ter-Bego di muka bumi ini hanya karena satu manusia yang dijatuhcintainya.
Kita patut bersyukur Tuhan memberi kesempatan untuk patah hati. Itu artinya kita akan belajar lebih banyak daripada yang lain. Bayangkan saja jika kita mengalami kisah yang harmonis saja. Pasti tidak ada tantangannya. Tidak bisa menulis kisah. Ya meskipun bisa menulis yang lain sih, kisah-kisah inspiratif tentang hubungan yang awet misalnya. Tapi ingat buki best seller kebanyakan genre nya patah hati. Wkwk.
Balik lagi ke masakan. Ketika patah hati, saya tidak pernah menghitung nikmat atau tidaknya hasil masakan saya. Karena orientasi saya adalah puas telah melampiaskan sesuatu. Tapi yang jelas saya akan menandaskan hasil masakan sata dengan brutal sebagai bentuk kepuasan itu. Yah meskipun orang lain akan menganggap rasanya biasa saja atau bahkan cebleh aliyas hambar. Ya saya nggak nggumun. Haha
Noted : sayur kangkung tapi cuma batangnya saja, karena kemarin saya beli sayuran tapi tidak jadi masak karena bucin, eh bukan tapi karena sibuk baca buku Karya Muhidin. Akhirnya kangkungnya kuning yang hijau tinggal batangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here