Penulis : Wahyu Puji

Setelah menyepakati rencana nglayap beberapa hari lalu, akhirnya rencana kali ini dapat terealisasikan. Bersyukur, tidak seperti rencana yang sudah-sudah, kalau tidak molor ya gagal. Padahal nglayap itu kan koentji. Tidak bisa dihal-recehkan begitu saja.
Di mata sebagian orang, tidak sedikit, banyak, yang bisa jadi berperspektif bahwa ngelayap adalah hal yang buang-buang waktu. Ketika jenuh, ngelayap hanya alternatif, juga tidak solutif, lebih baik istirahat di rumah, kembali mengumpulkan tenaga untuk beraktifitas esok hari.
Padahal begini, ngelayap bukan hanya persoalan mencari kesenangan atas kejenuhan dari aktifitas sehari-hari. Bisa lebih dari itu.
Belum lama ini, saya, secara sadar menyatakan bahwa diri sedang bucin. Dipeluk kepiluan oleh kesendirian yang semakin akut, ketika beberapa teman sudah memulai lembaran baru dengan pasangannya. Sementara, saya selalu gagal dan kalah pada persoalan yang melibatkan perasaan ini. Ehm
Jika sudah bicara cinta, terlebih yang bertepuk sebelah tangan ini memang bahaya. Apapun yang difikirkan, tidak lain tidak bukan, tidak kurang tidak lebih hanya untuk bagaimana agar dia bisa menyambut tangan itu. Hanya itu, difikirkan, boro-boro dilakukan. Lha kalau sudah begini, kamu mau progresif darimana ?
Sehari penuh menghabiskan waktu di kamar rasa KingsLanding lalu menjadi Lord bucin, galau buta, dan merasa patah harapan, –patah seperti yang diakibatkan oleh terbitnya IMB secara diam-diam oleh gaberner. Ehhh
Bayangkan saja jika tidak nglayap, betapa menyedihkannya seorang proletar patah hati juga harus hidup soliter. Di sinilah, -paling tidak menurut saya –ngelayap tidak bisa dianggap receh.
Ketika ngelayap, selain memanfaatkan waktu sebagai pengangguran agar lebih produktif, -juga menjadi jalan yang sebenarnya kita bisa kembali bernawaitu mengembangkan potensi diri. Bukan tidak mungkin, di luar sana, dunia tidak melulu persoalan kamu dan dia, tidak sesempit itu.
Di luar sana, kamu bertemu dengan teman kamu yang akun yutubnya sudah mencapai 65 ribu subscriber, kamu bertemu dengan teman kamu yang progres dengan projek animasi dan desainnya, kamu betemu dengan banyak orang yang terus melakukan hal kreatif untuk terus berdaya, kamu berkenalan dengan orang yang selama kuliah, karyanya bukan hanya skripsi.
Lha kalau sudah bertemu orang-orang yang begitu, kira-kira apa nggak urat malu mu itu meronta-ronta melihat diri masih gini-gini aja? sehari-hari hanya bucin, galau, terus pengen nikah. –repeat.
Ya nikah juga tidak salah sih, ketika kita sudah bicara ke ranah pernikahan. Nikah muda, nikah tua, nikah sedengan, atau terserah bagaimana kamu menamainnya. Meminjam kalimat suhu dharma, tidak ada yang salah dengan menikah, –terlebih nikah muda yang sering nyinyir-in, yang salah adalah ketika sudah menikah, kita mandeg mengaktualisasikan diri, kita terlalu sibuk dengan urusan domestik, –dan memilih tenggelam. Ini bukan lagi tidak mungkin, apalagi jika pasanganmu itu memang tidak pernah care dengan sisi lain kemampuan kamu.
Jadi, ya sama sajalah dengan urusan ngelayap ini, tidak ada yang salah dengan kelayapan, yang salah adalah setelah ngelayap itu kamu dapat apa?, setelah ngelayap, lalu apa?. Kalau hanya sekadar ngelayap saja, pulang ngelayap kamu masih dengan kemalasanmu yang sebelum pergi, tidak ingin mengubah diri menjadi lebih baik, ya memang benar, tidak usah kemana-mana. Tidur saja di rumah, kembali dengan mimpi-mimpimu itu untuk dapat memiliki dia. Tapi jangan ngimpi, hanya dengan tertidur, tertidur, tertidur –kamu terbentuk. Hilih..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here