‘Al-Identitas’

Identitas apakah yang layak disematkan untuk seseorang yang terlahir di Lebanon, berbahasa ibu bahasa Arab, beragama Katolik, tapi kemudian menghabiskan lebih dari separuh sisa usianya di Perancis?

Seorang Perancis atau Lebanon-kah ia jika dalam kenyataannya pandangan-dunia yang kini diimaninya merupakan adonan rumit pelbagai kultur yang bersilangan antara ke-Arab-an—yang merupakan muasal leluhurnya—dan ke-Eropa-an, yang dipungutnya secara sadar dari pengalaman keseharian yang hingga kini masih direguknya?

Pertanyaan itu terus-menerus mengepung novelis Amin Maalouf sepanjang hidupnya di Perancis sejak tahun 1976. Pertanyaan itu pula yang coba dijawab penulis buku sarat inspirasi berjudul ‘In the Name of Identity: Violence and the Need to Belong‘—semula berbahasa Prancis: ‘Identites meurtrieres’; diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ‘al-Hawiyyaat al-Qatilah—dalam semua jejak literer yang ditorehkannya.

Lalu, apa jawaban novelis penyabet hadiah sastra utama Perancis, Prix Goncourt, untuk novelnya ‘Les Rocher de Tanios‘ (1993) atau ‘Cadas Tanios‘—dalam versi terjemahan Ali Audah (YOI, 1999)—itu?

Jawaban tegas untuk pertanyaan yang seakan terus-menerus menguntitnya tersebut, begitu pengakuan Amin Maalouf sejak lembar-lembar paling awal buku ‘In the Name of Identity‘—berkat tangan dingin Rony Agustinus buku ini sudah tersedia dalam bahasa Indonesia—yang bisa kita anggap sebagai memoarnya itu, akan selalu dan selamanya sama: keduanya! Lebanon sekaligus Perancis!

Ia menjawabnya begitu bukan karena digoda pretensinya agar dianggap adil dan berimbang. Jawaban itu jatuh dalam pilihannya karena jawaban lain selainnya, menurut novelis yang mengawali karir kepenulisan sebagai jurnalis itu, hanya akan bermuara pada kebohongan yang sama belaka.

Mengaku “hanya” sebagai seorang Perancis, misalnya, adalah pengingkaran atas salah satu pertalian penting yang turut membentuk identitas kekiniannya: bahwa dalam bahasa Arab-lah ia pertama kali membaca karya-karya Dumas dan Dickens. Memangkirkan ke-Arab-an dan ke-Lebanon-an baginya juga dusta belaka karena memakzulkan jalinan apik pengalaman masa lalunya: mereguk nikmatnya nuansa pastoral tanah leluhur dan indahnya serakan dongeng masa kanak-kanak yang jadi ladang ilham bagi novel-novel yang ditetaskannya kemudian.

Kebohongan ‘murakkab’, menurutnya, juga akan begitu telanjang jika ia mengaku sebagai seorang Lebanon sembari mengingkari ke-Perancis-an yang juga turut memberi sumbangsih dalam tenunan apik identitas yang kini membalut semesta dirinya. Kebohongan yang sesungguhnya mengesampingkan kehadiran sabana ranah sejarah yang juga sama penting dimana ia (masih) menenggak anggurnya, menjamah bebatuan kuno nan indahnya, bahkan menulis pelbagai ‘masterpiece’ dalam bahasanya.

Karena itu, mengutip langsung pintalan argumen yang didaraskan Amin Maalouf: “Apa yang membuat saya sebagai saya dan bukan orang lain adalah fakta bahwa saya berdiri di antara dua negara, dua atau tiga bahasa, dan beberapa tradisi budaya”.

Enigma Identitas

Tanpa memunculkan pretensi besar hendak menawarkan penjelasan universal ihwal kompleksitas identitas juga beragam distorsi atasnya yang kerap mematikan, Amin Maalouf mengusung sebuah pesan bahwa identitas tak ubahnya “sebuah pola yang digariskan pada perkamen yang dibentang kuat-kuat.” Bahwa identitas sebenarnya “bukan semacam asembling dari pertalian-pertalian yang terpisah-pisah” juga bukan “semacam jalinan lepas kain perca”.

Ya. Identitas memang seperti mesin rumit yang tak mungkin bisa diungkai dengan obeng. Dengan menengok sejenak saja unggunan kekejaman yang mempreteli rasa kemanusiaan kita, dengan gampang pula kita bisa menarik simpul penilaian akan kelenturan sekaligus tak pernah ditemukannya identitas yang bisa dianggap absolut.

Sebab, ketika seseorang merasakan identitas keagamaannya tengah terancam, maka identitas religius itulah yang dianggapnya seolah cermin segenap identitas dan karena itu siap saling sembelih demi mempertahankannya. Tapi, saat bahasa-ibunya atau etnisitasnya yang dianggap sedang terancam, maka seseorang akan siap mempertaruhkan nyawa untuknya tanpa mau peduli lagi bahwa musuh yang harus dihabisinya adalah saudara seimannya!

Bukankah orang Turki dan Kurdi, meski saling berbeda bahasa, sama-sama muslim? Tapi siapakah yang bisa menyangkal bahwa genderang perang yang ditabuh kedua belah pihak yang bertikai itu tak kurang berdarahnya? Atau apakah ke-Katolik-an orang-orang Tutsi dan Hutu serta kesamaan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari mampu menginterupsi kecamuk perang yang mereka sulut?

Apakah ke-Katolik-an yang sama-sama dipeluk teguh orang-orang Ceko dan Slovakia mampu membingkai kehidupan mereka yang rukun? Mengapa juga identitas ke-Indonesia-an yang seharusnya mengikat kerukunan hidup antarwarga kerap diceraiberaikan semata-mata oleh perbedaan afiliasi keagamaan yang disandang? Dan demikian seterusnya.

Dengan mendaftar-ulang kompleksitas identitas yang mengejawantah dalam bentuknya yang tragis dan mengerikan, serta mengamini cara-pandang Amin Maalouf dalam membaca rajutan rumit identitas yang disandangnya dan coba dibagikannya untuk kita semua—sebuah tilikan cermat nan bernas atas identitas sebagai sesuatu yang lentur sekaligus tak pernah rampung karena sesungguhnya memang terus menerus dalam proses-menjadi—kecemasan kita akan enigma identitas—yang bisa menjadi penyatu semangat kebersamaan tapi kadang sekaligus menjelma palu godam yang bisa menceraiberaikannya, pemantik api semangat perkauman yang menyemburatkan kehangatan tapi tak jarang juga acap jadi air bah tsunami yang meluluhlantakkannya—dalam beberapa hal barangkali bisa kita susutkan.

Keinsyafan tentang multiplisitas wajah identitas yang kadang ramah tapi kadang penuh disesaki amarah itu pun selanjutnya akan menerbitkan horison baru dalam diri kita akan pentingnya konsep identitas yang terus-menerus diredefinisikan. Pula, konsep-konsep baru ihwal identitas seharusnya mampu kian mendorong akal budi kita mengafirmasi afiliasi dan pertalian ganda yang membentuk identitas kita tanpa kehendak yang terlalu menggebu untuk menunjukkan identitas, atau sebaliknya: sikap meremehkan yang hanya akan berbuah punah dan lesapnya identitas. Dua titik ekstrem yang jelas sama-sama berbahaya.

Bagi Amin Maalouf, tanpa kemampuan untuk mendamaikan tarik-tolak kebutuhan akan identitas sembari terus memegang tali toleransi yang tidak dibauri buruk sangka atas budaya-budaya lain; tanpa kepiawaian mengelak dari jebakan pilihan hitam-putih yang sama-sama absurd antara peniadaan diri atau peniadaan ‘orang lain’; maka kita sesungguhnya tengah menanti dan “menciptakan legiun orang-orang putus asa dan gerombolan orang-orang sinting yang haus darah”.

Maka, dengan menyodorkan afirmasi atas eksplorasi yang didedahkan Amin Maalouf, setiap manusia yang waras akan kian sadar bahwa kepelbagaian pada akhirnya mau tak mau niscaya dirayakan bersama. Semakin terdorong untuk menempatkan identitas diri sebagai rangkuman pelbagai ragam pertalian yang berjalin kelindan dan saling mengandaikan. Mau dan tak malu-malu memasukkan ramuan baru atas identitas dirinya tanpa menghunus keyakinan yang menyeramkan: bahwa identitas adalah sesuatu yang terberi sekali untuk selamanya.

Identitas Majemuk

Dan, dengan mengafirmasi rekaman kegelisahan Amin Maalouf sekaligus tafsirnya yang sarat kearifan ihwal betapa kompleksnya identitas, rasanya kita masih memiliki sebersit harapan bahwa suatu saat, kelak anak-cucu kita akan terheran-heran jika persoalan identitas pernah menyibukkan kakek-nenek mereka.

Sebab, ketika identitas dan semua pertalian yang jadi bahan adonannya sudah dipandang tak lebih dari gugusan dan racikan yang meramu secara bersilangan identitas yang disandang tanpa kehendak mengingkari sepenggal pun darinya; kita pun tak akan lagi merasa bersalah dipertautkan dengan suatu pertalian identitas yang menjerumuskan kita: menyembunyikannya seolah kusta, atau seperti sampar, yang memalukan dan menjijikkan.

Dan, dalam waktu yang sama, kita pun akan bersikap reseptif atas ‘yang lain’, ‘Liyan’, tanpa ketakutan terkoyak dan bahkan raibnya rajutan identitas yang telah kita pilih dan kita sandang. Sepenggal harapan tang digemakan dengan indah oleh Amin Maalouf saat mengakhiri, sekaligus memprediksi, masa depan buku yang baru saya uraikan saripatinya itu:

“Semoga cucu saya, yang tumbuh besar dan kebetulan menemukannya suatu hari nanti di rak buku keluarga, membolak-balik halamannya, membaca satu-dua pasase, lantas meletakkannya kembali di pojok berdebu tempat ia menemukannya, sambil mengangkat bahu dan tak habis heran bahwa di zaman kakeknya hal-hal macam begini masih perlu diucapkan”.

Sebuah kalimat penutup yang terkesan janggal, tapi luar biasa menarik, dalam mengkhayalkan nasib sebuah buku yang ditulis.

*Digunting dan disunting ulang dari tulisan lama dengan alasan sederhana: mendentingkan kembali relevansinya saat ini ketika politik identitas jadi ‘mambang’ yang menghantui kesalehan multikultural yang saya—juga Anda semua, saya kira—impikan. Seorang penulis besar pernah menggunakan judul serupa (‘al-identitas’)–dengan pesan yang juga sama tapi titik berangkat dan tema yang sama sekali berbeda.

Damanhuri  Armani (Dosen di IAIN Raden Intan Lampung)